Top Social

Image Slider

Halo, I am Baiq Rosmala Dewi, a mom-blogger who lives in Lombok Island.
Read More About Me →

Bertahan di Tengah Pandemi, Jangan Pelihara Gengsi

Dec 8, 2020

 

 

Tak terbantahkan, pandemi covid-19 memiliki dampak yang luar biasa terhadap kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang merasakan dampak akibat virus korona ini. Bayangkan saja, ketika suatu negara harus mengkarantina warganya. Bisa dipastikan dampaknya terhadap perekonomian, terutama bagi kelompok menengah ke bawah, akan sangat besar.


Bagi mereka yang mengais rejeki dan bertahan hidup dari pendapatan hari itu juga, pekerja serabutan, warung makan, pedagang kaki lima, transportasi online, menjadi sangat rentan dengan kemiskinan. Satu hari saja mereka tidak bekerja maka sudah dipastikan tidak ada yang dimakan untuk hari itu.

 

Belum lagi dikarenakan sektor pariwisata ditutup, jutaan pengelola dan pegawai destinasi pariwisata menganggur. Pemilik warung makanan, toko oleh-oleh dan souvenir, sopir bus pariwisata, pemandu wisata, pegawai hotel, pengrajin souvenir, penyuplai bahan makanan ke hotel, semua berhenti bekerja. 


Begitu juga ketika sekolah, pesantren dan kampus diliburkan. Pedagang kantin tidak bekerja, guru dan dosen honorer tidak mengajar, tukang ojek yang mengantarkan murid dan guru juga tidak bekerja. Toko penjual alat tulis sepi, pegawai toko jasa photocopy menganggur.


Bagaimana dengan Anda dan Saya?


Saya yakin, dampak pandemi covid-19 terhadap perekonomian tidak hanya dirasakan oleh mereka yang saya sebutkan di atas tetapi juga berdampak terhadap perekonomian Anda dan saya. Bagaimana covid-19 memberi dampak pada perekonomian keluarga saya? Adalah ketika saya dan suami sama-sama menjalankan bisnis makanan, terkena dampak yang cukup serius dari pandemi corona ini.  Sebelum pandemi, seluruh kebutuhan rumah tangga memang full ditopang oleh hasil penjualan dari bisnis yang kami jalankan. 

 

Kini saya malah teringat bagaimana dulu kami merintis bisnis. Suka duka telah terlewati selama kurang lebih 4tahun menjalani bisnis ini.


Awal Merintis Bisnis

 

Awal merintis Cafe Pizza tahun 2016

Setelah menikah, suami saya memilih untuk berhenti dari pekerjaannya di kapal pesiar Eropa. Saya pun begitu, saya melepas pekerjaan saya di Jakarta dan memilih tinggal di Lombok (saya dan suami sama-sama asli Lombok). Kami memilih untuk berjuang bersama, karena kami yakin bahwa melangkah bersama itu jauh lebih baik. Akhirnya dengan modal tabungan yang suami miliki, kami mulai merintis bisnis kuliner pada tahun 2016 dengan produk utamanya adalah pizza, sesuai dengan skill yang suami miliki dari pekerjaan sebelumnya.


Awal merintis bisnis bukanlah hal yang mudah. Sebelumnya kami terbilang memiliki kehidupan yang berkecukupan. Mau jalan-jalan, uangnya cukup. Mau makan-makan, uangnya ada. Sekarang setelah sama-sama merintis bisnis, kami harus pandai memilih dan memilah mana kebutuhan prioritas dan mana yang bukan. 

 

Saya jadi teringat, pernah satu hari kami tidak ada kedatangan pelanggan satu pun. Pemasukan yang kami peroleh pada hari itu Rp 0,- saja. Sedih? Nope! Kami memilih tertawa dan tetap bahagia. Karena hari itu saya dan suami bisa mengobrol dan becanda dari pagi hingga malam ketika toko tutup hehe.

 

Walaupun mendapati masa-masa sulit ketika awal merintis bisnis, kami juga pernah mengalami masa indah tentunya. Masa ketika dagangan kami laris manis diserbu pembeli, masa ketika kualahan melayani orderan, masa ketika usaha kami dikenal banyak orang sampai-sampai diliput stasiun TV lokal. Alhamdulillah.

 

Diliput salah satu stasiun tv lokal
 
Masuk tv

Dari rentan waktu 2016-2018, kami sudah tiga kali berpindah tempat usaha. Yang awalnya menyewa ruko, kemudian tidak sanggup memperpanjang sewa karena kehabisan modal, sampai membuka angkringan pinggir jalan. Semua kami lewati bersama-sama dengan penuh keyakinan bahwa akan ada masanya kami nanti sukses. Benar saja, Allah memberi kami kemudahan rejeki setelah itu. Alhamdulillah, bahkan Allah beri kami rejeki yang cukup untuk pergi umroh di bulan Ramadhan 2018. Rejeki dan nikmat yang tak kami sangka-sangka sebelumnya.

 

Warung pinggir jalan, 2017

Bisa pergi umroh bersama, Bulan Ramadhan (akhir bulan Mei 2018)

Juli - Agustus 2018, Lombok Diguncang Gempa

 

Hanya berselang satu bulan setelah kami menunaikan ibadah umroh, warga Lombok ditimpa musibah. Gempa berkekuatan 6.4 SR mengguncang Lombok pada pagi hari di tanggal 29 Juli 2018. Puluhan nyawa meninggal dan ratusan orang luka parah. Tak hanya itu, hampir setiap hari selama satu bulan lamanya kami merasakan kembali gempa-gempa susulan dan gempa baru yang berkekuatan 6-7 SR. Orang-orang takut keluar rumah, perekonomian terganggu. Tentunya berdampak pula terhadap usaha pizza yang kami jalani.


Ya, perekonomian di Lombok selama masa gempa itu melemah. Kami memilih bertahan dengan berjualan online full dari rumah. Jadi kami hanya melayani pembelian jika ada yang memesan. Apakah ada yang memesan pizza di tengah-tengah musibah gempa? Alhamdulillah, walaupun tidak setiap hari, tetapi masih ada orang yang membeli.

 

 

Ya Allah, jadi teringat waktu itu. Dikarenakan terbatasnya modal untuk menggaji karyawan, semua kegiatan produksi sampai delivery ke pelanggan kami kerjakan sendiri. Tak jarang anak sulung kami yang baru berusia 2tahun ikut mengantar pizza. Doakan yaa anak kami tumbuh jadi pribadi yang tangguh. Aamiin :)


Bangkit Pasca Gempa


Salah satu hikmah dari adanya musibah menurut saya adalah akan timbul kreatifitas, ide dan gagasan baru untuk tetap bertahan. Setelah beberapa bulan semenjak gempa kami hanya melayani pembelian secara online, terbesit ide untuk membuka pizza cooking class. Alhamdulillah banyak yang tertarik. Mulai dari diundang oleh sekolah-sekolah untuk mengenalkan cara membuat pizza kepada anak-anak, sampai ada beberapa orang yang datang ke rumah untuk melihat langsung proses pembuatan pizza. 


Pizza cooking class

Kami juga berkreasi dalam membuat menu baru dengan ukuran lebih ekonomis dengan harga terjangkau seperti mini pizza dan pizza slice sehingga pelanggan tidak harus membeli pizza ukuran full-size. Kami juga mulai berjualan dengan membuka stand di event-event tertentu. Semua usaha kami terus jalani bersama-sama untuk tetap bertahan :)

 

Pizza slice

Pizza mini

Sampai akhirnya kami juga mendapatkan kemudahan melewati ujian pasca gempa tersebut. Usaha kami kembali stabil, keuangan kembali normal. Cerita perjuangan kami merintis, mempertahankan dan mengembangkan usaha pizza ini pun dilirik oleh media cetak lokal (2019).

 

 

Tahun 2019, kami tidak hanya berjualan online tetapi juga mulai merekrut karyawan dan menyewa tempat untuk berjualan offline.

 

2019, kembali melayani pembelian offline

Kini Diterjang "Badai" Corona

 

Kehidupan itu memang berputar. Setelah warga Lombok mulai bangkit dan pulih dari musibah gempa 2018, pada tahun 2020 ini Indonesia dan dunia dilanda pandemi corona. Tentunya sangat berdampak terhadap kehidupan ekonomi. Bagaimana kegiatan usaha pizza kami sekarang? Yap! Bisa ditebak dari cerita sebelumnya ketika musibah gempa melanda, sekarang kami kembali berjualan online :D 


Kami sudah pernah mengalami up and down bersama-sama, pandemi kali ini pun tiada bedanya. Kami bertahan dan berjuang bersama-sama. Karena kami yakin, kita pasti bisa jika bersama-sama. Kami juga yakin, suatu saat usaha kami ini akan maju kembali, bahkan lebih maju dari sebelumnya. 

 

Yah, untuk saat ini, untuk bertahan di tengah pandemi, jangan sekali-kali pelihara gengsi! Itu prinsip kami. Lagian, kembali berjualan online juga seru kok! Kami kembali memiliki quality time bersama keluarga. Seperti sebelumnya, sekarang kami hanya tinggal berjuang sambil menunggu hari esok yang lebih baik, insyaallah. Karena ketika kami memilih untuk Berani Lebih Baik, itu artinya kami harus tetap bersama-sama melangkah, walau diterpa musibah.


Well, itu sedikit cerita kami bertahan di tengah pandemi ini. Bagaimana dengan kalian? Share juga yuk di kolom komentar! :)



Auto Post Signature