Berbagi Pengalaman + Tips Khitan Anak Batita

May 23, 2019
Sumber: Pixabay
Assalamualaikum Bunda hebat semuanyaaaa. Kali ini saya mau berbagi pengalaman khitan anak pertama saya. Alhamdulillah kakak Yusuf dikhitan ketika umurnya pas 2 tahun. Sebenarnya sudah lama banget tulisan ini nangkring di draft tapi apalah daya baru bisa rampung sekarang ketika si kakak udah umur 2th 6bulan wkwk.

Oke langsung aja yaa saya share gimana persiapan kita sebagai orang tua ketika anak mau khitan. Sekalian ada beberapa tips merawat luka bekas khitan yang bisa dijadikan referensi.

Persiapan untuk Orang Tua


Well menurut saya ketika orang tua memutuskan untuk mengkhitan anaknya bukanlah perihal mempersiapkan anaknya saja melainkan orang tua juga perlu persiapan. Yaa selain persiapan dana,  yang tak kalah penting adalah persiapan mental si ortu. Bagaimana ortu itu harus sudah siap secara mental dan menepis segala bentuk khawatir.

Emang si yaa namanya anak akan dikhitan, pasti ada lah sedikit rasa khawatir. Apalagi sebagai seorang ibu. Pikiran seperti "Duh entar si kakak ngamuk enggak ya? Pasti sakit banget! Enggak tega ih masih kecil harus dikhitan. Entar berapa lama lukanya bisa sembuh total? Takutnya infeksi seperti anak tetangga. Kemarin juga ada tuh yang jahitannya lepas akhirnya dirombak ulang jahitannya".

Duh, serem ya?  Tapi emang pikiran seperti itu ada kok terlintas di pikiran saya. Enggak tahu deh kalau orang tua yang lain hehe. Tapi sebisa mungkin kita sebagai orang tua harus berpositif thinking. Karena khitan ini adalah salah satu syariat yang harus dijalankan, insyaallah semua akan baik-baik saja.

Oiya sebelumnya juga penting mencari ilmu dan membaca pengalaman orang lain ketika merawat anak pasca khitan. Thats why saya juga menuliskan pengalaman ini karena ingin berbagi. Siapa tahu ada orang tua di luar sana yang searching dan butuh info ini kan?

Sounding Jauh-jauh Hari


Oke lanjut ke persiapan sang anak. Pengalaman saya, anak umur dua tahun sudah cukup baik dalam mencerna kalimat yang berulang kali diucapkan oleh orang tuanya. Nah di sini lah penting banget yang namanya sounding ke anak. Kalau saya soundingnya lebih ke "Kakak Yusuf, khitan itu Allah yang suruh ya, semua anak soleh pasti dikhitan. Dikhitan itu bagus nak, biar sehat".

Saya sendiri mengurangi kata-kata yang bersifat menakut-nakuti seperti "Ayo lho nanti dipotong/disunat ya itunya sama dokter kalau enggak mau nurut (kalau enggak mau makan misalnya). Sebisa mungkin gunakan kalimat yang positif. 

Sounding ke anak saya lakukan mulai dari dua pekan menjelang hari-H. Jadi setiap hari selama dua minggu saya ucapkan kata-kata yang persis sama seperti tadi di atas. Jadi ketika hari-H pun kakak Yusuf tetap excited untuk disunat.

Hari-H, Ketika dokternya sudah datang pun dia masih mengira tidak akan ada apa-apa. Baru ketika emak dan bapaknya megangin kaki dan tangan baru deh dia nangis. Sempat berontak, tapi karena kaki tangan dipegangin dengan kencang alhamdulillah proses khitan berjalan lancar.

Drama Pasca Khitan


Ah, yang paling mendebarkan itu bukan ketika proses khitan sih sebenarnya menurut saya. Momen yang paling wow itu ketika sudah selesai khitan dan obat biusnya sudah hilang, waduh. Anak saya sempat meronta-ronta dan memaksa itunya untuk dicuci. Berkali-kali dia meminta "Mak, cuci mak, sakit mak, ayoo cuci". Tapi kan enggak boleh dicuci lah, luka khitan enggak boleh kena air, nanti makin parah dan lama sembuhnya.

Semakin lama mungkin dia merasa semakin nyeri, dan akhirnya dia pun ngamuk. Mau dikasih makan untuk minum obatnya pun susah. Untung sebelum dikhitan sudah si kakak udah sarapan lumayan banyak, jadinya obatnya saya langsung kasih aja, sedikit dipaksa. Soalnya kasian liatnya, dianya nyeri, kalau enggak cepat-cepat dikasih obat pereda nyeri kan kasian ya? 

Mencegah Pendarahan 


Walaupun sempat mengalami drama nyeri pasca khitan, ternyata satu jam setelah minum obat kaka Yusuf langsung ceria karena banyak sepupunya datang memberikan hadiah. Ya mobil-mobilan, robot, mainan yang bergerak dan bersuara lah intinya, alhamdulillah dapat mengalihkan perhatiannya. Yaps, ini tips yang ampuh banget, karena anak yang masih batita ini emang senang banget kalau lihat mobil-mobilan dan robot yang ada suaranya dan bergerak kesana-kemari. Jadi perhatiannya dapat teralihkan.

Nah, sangking excited-nya sama mainan itu tadi, saya tidak menyangka kakak Yusuf malah mengejar mainannya. Waktu itu menjelang maghrib kalau enggak salah, dia sudah mau jalan seperti biasa bahkan lari kesana kemari sambil mengejar mainannya. Saya coba tegur dan bilang "Hati-hati kak. larinya jangan kencang-kencang" malah enggak mempan. 

Akhirnya ba'da maghrib dia ketiduran. Sebisa mungkin saya posisikan badannya menghadap ke atas ketika tidur, tapi ternyata saya malah ketiduran. Padahal sudah gantian sama suami buat jagain, tapi mungkin karena kelelahan, saya enggak nyadar ketika bangun Yusuf posisinya miring, itunya jadi ketindih :(


Pendarahan? Iya, pendarahan dong, lumayan banyak, hiiks sedih. Jadi tips mencegah pendarahan salah satunya ini yaa, usahakan si anak tidurnya hadap atas. Harus ada yang jaga sih yaa, jangan sampai ketiduran kayak saya :D

Yang Dilakukan Ketika Pendarahan


Ketika terjadi pendarahan, saya langsung hubungi dokternya. Saya kirim foto pendarahannya, kata dokter disuruh bersihkan pakai kasa, sambil agak ditekan-tekan agar semua darahnya keluar. Kalau darahnya tidak berhenti ngalir katanya suruh langsung bawa ketemu beliau. Alhamdulillah setelah dibersihkan dengan kasa darahnya perlahan berhenti mengalir. Intinya kalau pendarahan jangan dulu panik yaa, bisa jadi anaknya malah tambah panik karena melihat darah yang ngalir plus liatin muka panik orang tuanya. 

Oiya waktu itu pernah kejadian dengan anak tetangga, pasca khitan anaknya ngamuk, anaknya udah lumayan gede sih, anak TK mau masuk SD. Jadi ketika ngamuk kesakitan orang tuanya enggak bisa nahan badan si anak, jadinya pendarahan parah, dan benang yang udah dijahitkan di bagian itunya  putus. Jadi mau enggak mau dokternya menjahit ulang. 

So jadikan pelajaran aja, Kalau emang pendarahannya keliatan parah banget langsung aja hubungi dokter.

 

Jangan dulu Bepergian


Biasanya setelah tiga atau empat hari anak udah mulai bosan kan di rumah terus. Kakak Yusuf juga gitu, di hari kedua malah pengennya keluar nyari teman main. Kalau saya siasati dengan menyuruh teman-temannya (anak tetangga) dan sepupu Yusuf untuk sering-sering dateng main ke rumah. Walaupun ujung-ujungnya kakak Yusuf juga berantem sama teman seusianya, biasalah rebutan mainan baru wkwk. Tapi berdiam di rumah sampai benar-benar sembuh itu harus menurut saya. Bukannya gimana yaa, di luar kan banyak debu, takutnya banyak kotoran hewan juga, kalau debu nempel di luka yang masih basah kan bahaya. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

 

Merawat Luka Jahitan


Alhamdulillah luka bekas khitannya sudah mengering dalam hitungan lima hari. Itu karena saya rutin menyiramkan air infus ke bagian lukanya siang dan malam. Pokoknya sehabis pipis dan sehabis mandi saya rutinkan siram pakai air infus dan alhamdulillah cepat keringnya.

Air Infus. Sumber gambar: google images
Ini contoh gambar air infusnya yaa. Saya nyari di google image, bagi yang punya gambar ini mohon maaf gambarnya dipakai di sini. Sebenarnya punya saya waktu itu udah sempat kefoto tapi sekarang filenya enggak tahu dimana :D

Saya hanya merawat luka pakai air infus ini aja, selain obat minum yang dikasih sama dokter tentunya. Enggak pakai obat tetes atau obat tabur lain, alhamdulillah lukanya cepat kering. Setelah enam hari luka kering sempurna tanpa harus berendam di air hangat/air rendaman daun sirih.

 

Kapan Boleh Pakai Celana? 


Tergantung kondisi lukanya, kalau emang udah kering enggak apa-apa kok dipakaikan celana walaupun belum mengelupas semua. Pengalaman saya, di hari ke-empat atau ke-lima Yusuf sudah pakai celana walaupun masih ada (lumayan banyak) kulit kering yang menempel. Asalkan hati-hati dalam buka pasang celananya. Dan saya sudah pastikan bahwa lukanya udah kering, hanya saja kulit kering warna item itu masih nempel.

Yang jelas kalau lukanya masih basah banget ya jangan dulu pakai celana yaa, takutnya kegesek dan malah menimbulkan luka baru. Oiya, kulit kering warna hitam itu enggak boleh dicabut paksa, kadang anak-anak (termasuk anak saya) suka iseng pengen cabutin bagian yang item itu. Harus lebih diperhatikan lagi oleh orang tua.

Nah, itu dia yaa pengalaman saya merawat anak batita pasca khitan. Masing-masing anak mungkin beda-beda penanganannya terkandung kondisi luka si anak. Yang paling penting adalah support dan kesabaran dari orang tua. Jangan lupa juga penuhi asupan makanan dengan gizi dan nutrisi yang lengkap. Enggak ada pantangan kok kalau masalah makanan, yang penting bukan makanan yang bikin anak alergi.

Thanks for reading ^^

Baca Juga: Pengalaman Sakit Gigi Ketika Menyusui

Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature