Life of A Joyful Mama

Image Slider

Halo, I am Baiq Rosmala Dewi, a mom-blogger who lives in Lombok Island.
Read More About Me →

Berobat ke Dokter Spesialis Kulit di Mataram, dr. Farida Hartati

Jan 26, 2018

Beberapa hari yang lalu anak saya Yusuf (14months) tiba-tiba terkena gatal-gatal seluruh badan. Awalnya kayak ada sejenis biang keringat gitu di sekitar kaki dan tangan dan lama-lama menjalar ke bagian muka.

Awalnya saya sempat mikir mungkin emang biang keringat biasa. So waktu itu saya coba ngobatin dengan rajin pakein bedak setelah mandi (karena biasanya dan emang sengaja saya enggak pakein bedak dari lahir soalnya takut bedaknya terhirup). Tapi lama kelamaan gatelnya makin menjadi-jadi dan menjalar ke daerah mata.

Ternyata ada yang aneh, saya pun sempat periksa ke puskesmas. Pada akhirnya saya tahu jenis penyakit kulit yang dialami anak saya bukanlah penyakit yang biasa. Cerita lebih lengkapnya mengenai penyakit gatal yang dialami oleh anak saya nanti akan saya bagikan di postingan yang berbeda yaa (kalau ingat dan kalau sempat :D)

Perbedaan Kehamilan Pertama dan Kedua

Jan 25, 2018
source Pixabay.com

Kehamilan kedua saya datangnya tak terduga dan tidak terencana. Emang rejeki itu enggak kemana yaa.. Anak pertama saya masih berumur delapan bulan waktu itu ketika saya mengetahui saya hamil lagi.

Awalnya sempat sedih, tapi di lain sisi saya harus tetap bersyukur. Banyak pasangan lain yang menjalani program hamil bertahun-tahun dan menghabiskan uang berjuta-juta demi mendapatkan keturunan.

Sekarang usia kehamilan saya sudah memasuki bulan ke delapan. Menjalani kehamilan sambil mengasuh bayi tentu ada suka dukanya. Ada juga beberapa perbedaan yang saya rasakan jika saya bandingkan kehamilan anak pertama dan kedua ini. Tiap ibu pasti merasakan hal yang berbeda-beda tentunya.

1. Morning Sickness

Pada kehamilan pertama, hampir setiap kali saya masuk kamar mandi entah itu di waktu pagi, siang ataupun malam pasti saya mual muntah. Dan itu berlangsung sampai memasuki usia kehamilan lima bulan.

Pada kehamilan kedua ini saya bisa dibilang tidak mengalami mual muntah yang berarti. Yang paling kerasa itu cuman di waktu pagi ketika baru bangun tidur, kepala terasa berat dan pusing serta mudah mengantuk. Hal ini saya alami selama trimester pertama saja. Selebihnya saya bisa menjalani aktifitas seperti biasa sepanjang hari.

2. ‎Aktifitas yang Dijalani

Ketika hamil pertama, saya tidak memiliki banyak aktifitas di luar rumah alias berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Kegiatan saya sehari-hari paling beres-beres rumah, nulis blog dan sesekali refreshing jalan-jalan dengan suami. Walaupun gitu, saya sering merasa lelah. Mungkin karena anak pertama jadi bawaannya sering khawatir dan ujung-ujungnya saya memilih untuk membatasi diri dalam bergerak.

Beda dengan kehamilan kedua saat ini di mana saya bekerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta dekat rumah. Kegiatan yang saya jalani tentu lebih banyak dibandingkan saat kehamilan pertama. Walaupun aktifitasnya lebih padat, bisa dibilang kehamilan saya yang kedua ini saya tidak terlalu banyak mengeluh. Mungkin karena kesibukan di tempat kerja ditambah kesibukan mengasuh anak jadi enggak kerasa kalau sedang hamil kali yaa?

3. ‎Hamil sambil Memberi ASI

Perbedaan yang paling kerasa saat ini adalah ketika saya hamil anak kedua sekaligus masih menyusui anak pertama. Sempat siih mencoba untuk menyapih tapi enggak berhasil. Kebanyakan orang emang merekomendasikan untuk menyapih saja karena kasian kalau nutrisinya disedot terus sama anak pertama. Saya pun sempat mikir kayak gitu, sampai akhirnya saya ketemu dokter Pro ASI yang bilang kalau menyusui ketika hamil itu aman-aman aja. Tapi tentunya ada syarat dan kondisi tertentu yaaa..

Baca selengkapnya di postingan saya: Hamil Sekaligus Menyusui, Cerita Menyusui dan Hamil Muda

4. ‎Posisi Tidur

Posisi tidur yang paling enak dan nyaman yang saya rasakan baik itu di kehamilan pertama maupun kedua adalah dengan berbaring ke sebelah kanan. Banyak yang bilang posisi yang bagus itu menghadap kiri, enggak tau juga alasannya apa. Yang jelas saya lebih nyaman kalau hadap kanan.

Bedanya, kalau kehamilan pertama saya baru bisa tidur itu kalau dikelilingi oleh bantal. Maksudnya teh harus ada satu bantal buat ganjel perut, guling panjang buat ganjel punggung, dua bantal buat di kepala, satu bantal buat di betis dan satu bantal buat di kaki :D

Sedangkan kehamilan anak kedua ini, perut saya tidak terlalu besar jika dibandingkan kehamilan pertama. Jadi kalau tidur tidak terlalu memerlukan banyak bantal, hanya dua bantal di kepala dan satu bantal guling untuk ganjel perut.

5. ‎Porsi Makan

Kalau porsi makan, hampir dibilang sama aja yaa.. Saya tipe orang yang kehamilannya itu enggak terlalu banyak makan. Cuman di awal-awal aja siih suka laper dan sekalinya makan porsinya banyak. Itu pas awal-awal belum tahu kalau sedang hamil. Selebihnya, apalagi trimester pertama nafsu makan bener-bener menurun. Terus trimester kedua dan ketiga porsi makan saya sama saja seperti sedang tidak hamil. Tapi emang bedanya kalau kehamilan kedua ini berat badan saya lebih sedikit dibandingkan kehamilan pertama. Mungkin kembali lagi karena aktifitas yang saya jalani di luar rumah lumayan menyita energi.

6. ‎Rasa Cemas dan Khawatir

Cemas dan khawatir itu sering banget saya rasakan pada kehamilan pertama. Rata-rata sih emang katanya normal kalau begitu. Soalnya kan namanya juga kehamilan pertama, belum ada pengalaman sama sekali. Apa-apa cemas, dikit-dikit khawatir. Nah kalau yang kedua ini saya ngerasa lebih nyantai aja. Tapi seharusnya enggak baik juga terlalu disepelekan, iya enggak sih?

7. ‎Perhatian

Perhatian yang saya dan suami berikan kepada janin yang ada di dalam perut di kehamilan kedua ini bisa dibilang sangat kurang. Mungkin karena kesibukan mengasuh si kakak yang sedang gemar-gemarnya mencari perhatian di usianya yang satu tahun. Dulu ketika hamil pertama, saya sering melakukan USG minimal sekali dalam dua bulan dan saya juga sering konsultasi ke bidan. Sekarang  selama delapan bulan ini saya baru USG hanya dua kali.

Terus di kehamilan pertama saya dan suami sering banget komunikasi sama si debay di dalam perut. Sekarang, interaksi emang lebih banyak ke si kakak jadi mau gimana lagi yaa.. Komunikasi dan berinteraksi dengan si debay dalam perut di kehamilan kedua ini sih tetap ada, cuman enggak terlalu sering.

8. ‎Badan yang Membengkak

Pada kehamilan pertama hampir semua badan saya bengkak, dari jari-jari tangan, kaki, pipi dan badan secara keseluruhan sangat-sangat bengkak alias gemuk banget. Beda sama kehamilan kedua ini saya tidak terlalu mengalami perubahan fisik. Badan juga terasa lebih enteng. Mungkin karena dulu saya enggak kerja di luar rumah kali yaa.. Kalau sekarang saya kerja itu dari Senin sampai Sabtu -,-. Mungkin wajar aja kali yaa badannya enggak terlalu bengkak dibandingkan kehamilan pertama.

9. ‎Persiapan Melahirkan

Sampai delapan bulan usia kehamilan kedua ini, saya belum nyiapin apa-apa hiiiks. Padahal nyadar sih kalau hari kelahiran makin dekat. Tapi emang saya ngerasa enggak terlalu banyak yang harus dipersiapkan jadinya agak dibawa santai. Kayaknya beberapa hari ke depan deh saya baru akan pergi nyari perlengkapan melahirkan kayak maternity pads dkk. Kalau pakaian newborn baby dan teman-temannya sih masih utuh dan lengkap.

Setidaknya itu perbedaan-perbedaan yang saya rasakan sekarang ini. Kalau dipikir-pikir kayaknya saya kurang fair yaa jadi orang tua :(

Duh jarak kehamilan yang mepet gini emang satu hal yang paling saya khawatirkan adalah ketika nanti saya tidak bisa berbuat adil untuk si kakak dan adeknya. Semoga saja ini hanya kekhawatiran yang mengada-ngada.

Kayaknya cuman itu aja yang bisa saya share di postingan kali ini. Thanks for reading and be a happy mommy!



Pentingnya Pendidikan dan Pemilihan Jurusan yang Tepat Sebagai Penentu Masa Depan

Jan 12, 2018
source: Pixabay

Perubahan zaman yang bergerak dengan sangat cepat menciptakan pembaharuan-pembaharuan di berbagai sektor, mulai dari perubahan budaya masyarakat khususnya di negara-negara maju dan berkembang dengan pola hidup masyarakatnya yang terus bergerak maju. Seiring dengan meningkatnya tingkat kebutuhan setiap individu dalam berbagai hal, mulai dari kebutuhan primer, sekunder hingga tersier yang dipicu oleh gaya hidup setiap individu yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Adanya pergolakan dalam perkembangan zaman yang seolah tidak terkontrol lagi membuat setiap orang harus bekerja keras untuk bertahan hidup di tengah gejolak globalisasi yang dimonopoli oleh para kaum borjuis.

Di beberapa sektor lahan industri, khususnya yang mempekerjakan ratusan bahkan ribuan buruh dengan kerja ekstra namun dengan standar gaji buruh yang seolah mencekik para buruh di tengah globalisasi yang sedang meledak-ledak ini. Semboyan waktu adalah uang terus memonopoli pola pikir masyarakat untuk mendongkrak kekuatan dan menguras tenaga selama 24 jam untuk mengumpulkan uang sebagai fondasi bertahan hidup, menghadapi kerasnya kehidupan tidak jarang memicu frustrasi beberapa kalangan sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidup. Indonesia secara khusus merupakan salah satu negara berkembang dengan tingkat pengangguran yang terus bertambah setiap tahunya menjadi bukti kerasnya persaingan dalam berburu uang.

Kreativitas menjadi hal yang sangat unggul untuk dikembangkan pada pribadi setiap individu, kreativitas dalam mengolah isu sosial, kreativitas dalam menambah value suatu benda, kreativitas dalam mencipta inovasi dan lain sebagainya. Jiwa kreatif akan sangat membatu meningkatkan taraf hidup seorang individu di tengah masyarakat, untuk menjadi pribadi yang kreatif, hal yang perlu diperhatikan adalah sikap berani untuk keluar dari kaidah-kaidah yang sudah ada, berani melanggar pakem dan menjadi kaum minoritas, atau dengan kata lain berani tampil beda agar mampu menciptakan pembaharuan yang bernilai lebih dan cenderung mengikuti perkembangan zaman yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat zamannya.

Kaum kreatif semakin bermunculan di tengah masyarakat, mulai dari kalangan akademisi sampai masyarakat biasa, kemunculannya dipicu oleh berbagai macam hal, mulai dari kejelian dalam menanggapi berbagai perkara isu sosial yang ada sampai karena himpitan ekonomi yang memaksa untuk berfikir keras untuk mendapatkan penghasilan lebih dalam memenuhi kebutuhan hidup atau tuntutan lainnya, seperti tanggung jawab dalam membiayai keluarga, mulai dari menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan makanan, sampai kebutuhan-kebutuhan tak terduga lainnya. Kemajuan teknologi yang memberi kemudahan kepada manusia terkadang memicu sifat malas dan acuh tak acuh manusia, karena menciptakan rasa aman dan terlalu malas untuk keluar dari zona nyaman, sifat seperti ini tentu akan menghambat kreativitas seseorang, maka dari itu sudah menjadi fitrah manusia yang akan menjadi sosok kreatif ketika berada dalam situasi terhimpit, situasi tertentu akan memicu kreativitas setiap orang.

Kalangan akademisi saat ini seolah menjadi pisau bedah dalam mengatasi berbagai macam problem sosial yang bertebaran di mana-mana, peran lembaga pendidikan dalam membentuk pola pikir kreatif seolah menjadi PR tersendiri yang jelas tercatat dalam visi dan misi mereka, sehingga memicu persaingan yang ketat dan berlomba-lomba mencetak alumni berkualitas. Pola pikir seorang akademisi akan tercipta berdasarkan lingkungannya, kreativitas akan tercipta jika lembaga pendidikan tempatnya menimba ilmu kerap memberikan peluang bagi setiap peserta didiknya untuk lebih open minded dalam merefleksi lingkungannya secara positif dan kreatif. pendidikan adalah pisau bedah dalam menciptakan masyarakat kreatif, pola pikir sebagian orang tua tentang pendidikan hanya sebatas jembatan menuju pekerjaan yang mapan terkadang menjadi tembok yang membatasi kreativitas anak-anaknya, hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun beberapa orang tua bahkan terkadang ikut andil dalam menentukan jurusan yang akan dijalani oleh anaknya, beberapa diantaranya tepat sasaran, namun sebagian lainnya justru membuat sang anak jadi kehilangan arah dan tersesat.

Sejatinya, budaya pendidikan di era globalisasi ini khususnya dalam konteks pemilihan jurusan yang akan dijalani selama menimba ilmu merupakan perkara yang sebagian orang anggap sepele, dengan pemikiran selama jurusan tersebut bisa menjadi jembatan agar bisa menghasilkan uang, mengapa tidak. Padahal, pentingnya mengutamakan passion dalam pemilihan jurusan adalah perkara yang tidak bisa dianggap sepele, hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas kinerja kita di masa depan. Bekerja dengan keterpaksaan dan bekerja karena kecintaan pada pekerjaan yang dijalani memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap psikologis orang yang menjalaninya, jika dijalani dengan keterpaksaan tentu akan menimbulkan tekanan terhadap kejiwaan yang mengakibatkan frustrasi berlebihan, sehingga mengurangi rasa bahagia yang dirasakan setiap harinya, hal ini dapat memicu tindakan negatif berupa pelarian dari kondisi yang membuatnya tertekan.

Sangat berbeda dengan orang yang menjalani sebuah pekerjaan karena passion, pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuannya dan tentu hal yang ia cintai, tentu juga berpengaruh terhadap kejiwaannya, hal ini tidak hanya berpengaruh pada kinerja, tetapi juga terhadap kejiwaan pelakunya yang cenderung didominasi oleh perasaan bahagia. Orang yang menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati ketika dihadapkan dengan kesulitan dalam pekerjaannya, ia akan cenderung menganggapnya sebagai tantangan dalam perjalanan karirnya tanpa melihatnya sebagai masalah yang menyusahkan, karena pola pikir kreatif akan senantiasa menjadi solusi bagi seseorang yang berada dibawah tekanan pekerjaan yang ia cintai, ia akan berusaha untuk memberikan hasil yang maksimal untuk menunjukkan dedikasinya terhadap pekerjaannya sebagai bentuk profesionalitas.

Berdasarkan hal-hal diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pentingnya pemilihan jurusan yang tepat saat menimba ilmu menuju jenjang spesialis di suatu bidang adalah hal yang patut dipertimbangkan, melihat hal tersebut akan sangat mempengaruhi kadar kebahagiaan yang akan dijalani di masa depan terhadap pekerjaan yang dijalani, hal ini erat kaitannya dengan seberapa berani dan seberapa tegas kita dalam mengambil andil untuk membuat keputusan jangka panjang yang berdampak besar bagi masa depan kita kelak. Pendidikan adalah hak setiap individu, namun tetap saja uang selalu menjadi penghalang dalam hal ini, jika anda merupakan salah satu orang dengan keinginan yang kuat untuk menyekolahkan anak anda namun terhalang oleh kendala finansial, maka salah satu solusi yang tepat bagi anda adalah dengan mengunjungi website resmi pinjaman24.id yang menyediakan solusi keuangan bagi anda. 
Monily.id merupakan penyedia layanan bebas pinjam berbasis online yang beroperasi di Indonesia dan membantu para konsumen untuk mengajukan pinjaman online non bank, http://www.monily.id/ menyediakan informasi yang dapat dijadikan perbandingan awal dalam menentukan pihak peminjam yang sesuai dengan kebutuhan. Jika anda membutuhkan dana dalam jumlah yang cukup besar dan dalam waktu yang singkat untuk biaya pendidikan anak anda, maka pinjaman24.id yang merupakan layanan pinjaman berbasis online bisa menjadi salah satu pilihan anda, dengan persyaratan tanpa jaminan anda bisa langsung menerima uang di rekening anda dalam waktu yang sangat singkat setelah mengikuti prosedur yang berlaku. 

---
This is a sponsored post, read Disclosure!

Suamiku: Antara Berkata Jujur dan Keracunan

Jan 10, 2018
Suami saya, adalah tipe orang yang blak-blakan kalau ngomong. Kalau enggak suka, ya langsung bilang enggak suka. Pun kalau menyukai sesuatu, dia enggak akan segan-segan memuji dan menghargai, sekecil apapun itu.

Tapi, ada satu hal yang dia paling susah untuk jujur! Tentang masakan saya! Kalau dia mendapati masakan saya keasinan misalnya, dia lebih memilih untuk diam. Diam saja, sambil melanjutkan makan sampai habis. Biasanya nanti setelah saya icip, baru saya akan teriak-teriak sambil merengek minta maaf kalau masakan saya keasinan. Heuheu, mau gimana lagi. Suami saya emang enggak bisa ngomong kalau soal masakan saya. Kalau masakan orang lain mah langsung aja dikomentari kurang ini kurang itu wkwk.

Auto Post Signature