Life of A Joyful Mama

Tragedi Masa Kecil Tentang ASI

Aug 18, 2016
pixabay.com

Postingan ini saya buat dalam rangka ikut menyemarakkan Pekan ASI Dunia yang jatuh pada tanggal 1 sampai 7 Agustus lalu. Karena saya belum memiliki pengalaman memberikan ASI ke anak, maka saya memutuskan untuk bercerita mengenai pengalaman saya waktu kecil dulu ketika menerima ASI dari Ibu saya. Sebuah kisah yang sebenarnya membuat saya ketawa ketika Ibu saya pertama kali menceritakannya. Namun di sisi lain ternyata menimbulkan suatu "tragedi" yang menyimpan sedih di hati.

Oke langsung aja yaa..
Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA ketika Ibu saya menceritakan kisah ini untuk pertama kali. Ibu saya termasuk orang yang alhamdulillah selalu diberikan kelancaran saat memberikan ASI kepada anak-anaknya. Saya dan ketiga saudara-saudari saya yang lain selalu berhasil diberi ASI full hingga memasuki umur dua tahun.

Nah, ketika memasuki umur 2 tahun, saudara-saudari saya yang lain berhasil melepas ASI begitu saja. Dalam artian, Ibu saya tidak perlu mengeluarkan effort lebih untuk menyuruh mereka tidak ngASI lagi. Ibu saya hanya cukup memberi isyarat ke kakak dan adik saya kalau PD beliau terasa sakit setiap kali mereka ingin minum ASI. Setiap kali haus, mereka hanya akan diberi air putih atau teh manis hangat. Dan ternyata cara itu cukup berhasil mengalihkan perhatian mereka sehingga tidak sampai seminggu mereka sudah lupa dengan ASI Ibu.

Baiklah, "keanehan" justru terjadi pada saya. Sejak lahir, saya termasuk anak yang sangat kuat minum ASI. Walaupun sudah menerima makanan pendamping ASI, tetap saja ASI selalu mendominasi. Ketika berumur dua tahun lebih, anak-anak lain yang seumuran dengan saya pasti langsung tergoda kalau disuguhkan snack di depannya. Kalau saya berbeda, mungkin bisa dikatakan addicted to ASI dan tidak bisa lepas darinya.

Ketika itu Ibu saya telah mencoba berbagai cara agar saya bisa berhenti minum ASI. Hingga akhirnya saya menginjak umur (hampir) dua setengah tahun, Ibu menemukan satu ide! Tahu apa?

Membuat PDnya seolah-olah berdarah dengan mengoleskan lipstik yang berwarna merah cerah! -,-

Ketika mendengar cerita itu saya benar-benar tertawa! Hahaha "Sampai segitunya ya Mah?".

Ibu saya lanjut bercerita...
Setelah melihat PD ibu saya "berdarah-darah", saya pun menangis dan mengamuk. Bukan karena kasian melihat Ibu saya yang kala itu beracting menahan rasa sakit, tapi saya mengamuk karena tidak bisa minum ASI lagi! Hihihi

Sebenarnya Ibu saya tidak tega, tapi yaaa mau gimana lagi, beliau terpaksa melakukannya demi kebaikan saya. Saya pun ditenangkan oleh banyak orang, dan berhasil. Namun keadaan berubah ketika menjelang malam, di mana waktu itu saya mengamuk lagi. Terpaksa Ibu saya menawarkan PDnya kembali untuk memberi saya ASI.  Tapi ternyata, saya waktu itu sudah tidak mau lagi! Kalau dalam bahasa daerah saya (bahasa sasak) disebut sebagai istilah "ye polak angen" alias "sudah terlanjur patah hati".

Saya pun tetap mengamuk sampai tengah malam. Warga desa satu persatu berdatangan. Berjam-jam tangisan saya tak kunjung reda. Dan besok paginya saya jatuh sakit, badan saya demam tinggi. Ibu saya bingung, saya ditawarin ASI nggak mau, dikasi makan nggak nafsu. Karena Ibu saya waktu itu tinggal di pedalaman, jarak yang harus ditempuh untuk mendatangi Puskesmas sangatlah jauh. Apalagi waktu itu belum terlalu banyak kendaraan. Jangankan motor pribadi, angkot pun tidak ada yang melewati desa saya.

Akhirnya saya dirawat di rumah dengan perawatan seadanya. Sudah dua minggu, kondisi saya tak kunjung membaik. Demam yang saya alami kadang turun-naik. Untung ada beberapa warga yang menawarkan bantuan agar saya dibawa ke dokter saja. 

Setelah bertemu dokter, katanya saya mengidap penyakit malaria. Saya waktu itu hanya dikasih obat, mungkin karena peralatan medis tidak tersedia, dokter menyarankan agar saya dirawat inap di rumah saja.

Setelah dibawa pulang, tidak sedikitpun terlihat adanya perubahan. Keadaan saya begitu-begitu saja. Demam yang naik turun, dan badan yang sangat lemah. Orang tua saya dengan bantuan kerabat lainnya kemudian memanggil dokter yang berbeda untuk datang ke rumah. Betapa kagetnya ketika dokter yang satu ini menjelaskan bahwa saya sedang SEKARAT!

"Percuma mau dikasi obat seperti apa, kondisi anak Ibu akan tetap seperti ini... Kemungkinan besar umur anak Ibu tidak lama lagi!" Begitu kira-kira penjelasan dokter kepada Ibu saya T.T

Sediiiih banget dong pastinya!
Ibu saya merasa sangat bersalah, karena semua berawal ketika beliau ingin menghentikan pemberian ASI kepada anaknya yang sudah berumur 2 setengah tahun :(

Benar saja, kondisi saya tidak kunjung berubah selama sebulan. Tiap hari orang tua saya mengaji di samping saya dari pagi, siang hingga malam. Terkadang menjelang maghrib, beberapa tetangga hadir untuk sekedar menanyakan keadaan saya. Ada juga yang datang untuk mengaji dan berdoa seperti halnya yang dilakukan untuk orang yang sedang sekarat #hiikss..

Sampai di sini, saya yang awalnya tertawa seketika merasa berduka -,-.
Eh berarti kesimpulannya waktu itu saya berhasil sembuh dong ya! Buktinya saya alhamdulillah masih diberi umur sampai sekarang hehehe...

Ibu saya melanjutkan ceritanya..
Setelah satu setengah bulan mengalami kondisi yang "kritis" itu, akhirnya kondisi saya perlahan-lahan membaik. Mungkin semua berkat doa yang tidak henti-hentinya dari orang tua :). Tidak ada yang menyangka, saya semenjak itu tumbuh sehat seperti sedia kala ^^.

Alhamdulillah...

Kira-kira seperti itulah cerita mengenai Tragedi Masa Kecil tentang ASI ini.
Hikmahnya kira-kira apa yaa?  Mungkin bisa menjadi pembelajaran bagi para orang tua lainnya. Ketika sudah waktunya masa pemberian ASI harus terhenti, memang dibutuhkan kesabaran dan dilakukan secara bertahap. Karena pemberian ASI ini merupakan pengalaman emosional bagi sang Ibu, Ayah dan Anak. 

Saya sendiri merasa bangga atas apa yang dilakukan Ibu saya. Kalau bukan Ibu, siapa lagi yang bisa menerapkan kedisiplinan dalam proses mengatur waktu pemberian asupan kepada anak-anaknya (baik itu ASI dan makanan lainnya).

Adapun efek demam yang ditimbulkan, menurut saya itu ujian. Dan orang tua saya berhasil melewati ujian itu dengan penuh perjuangan dan kesabaran.

Kepada semua ibu dan calon ibu, semangaatt yaaa!!! ^^


4 comments on "Tragedi Masa Kecil Tentang ASI "
  1. kalo ibu2 dulu, menyapih ASI memang masih dgn cara pemberian yg ekstrim pada payudaranya seperti memberi lipstik atau rasa pahit supaya bayi tdk mau lagi minum ASI. Tapi skrg ini menyapih harus dgn cinta, weaning with love :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa mbaa.. bener, awalnya ibu saya gak tega, tapi udah terlalu sering mendengar omongan dan mitos di masyarakat akhirnya terpaksa. Mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi ibu-ibu yang lain yaa

      Delete
  2. wahh mungkin kena nyamuk malarianya waktu nangis dan ngamuk malam itu ya mba Baiq... kebayang bagaimana perasaan Ibu waktu itu, pasti merasa bersalah dan ga tega melihat Mba.

    Saya yakin Ibu Mba Baiq sekarang senang dan bangga melihat putri kecilnya tak tumbuh seperti mitos. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. digigit nyamuk malarianya kebetulan ketika sudah tidak menerima ASI lagi jadi reaksinya sampai kayak orang sekarat gitu ya mba hihi..
      Alhamdulillah semoga Ibuku bangga ^^ amiiiin

      Delete

Auto Post Signature