Sebaik-baik Pelindung dan Penjaga

by - February 14, 2018

source: pexels.com
Akhir-akhir ini banyak sekali video beredar di linimasa facebook saya yang membuat saya kadang tidak bisa bernafas. Sebagai seorang ibu, melihat video anak terjatuh dari motor ketika dibonceng ibunya, video bayi meregang nyawa karena terjatuh dari balkon rumahnya, video seorang bayi yang disiksa oleh seorang asisten rumah tangga, video penculikan anak, video pelecehan seksual terhadap anak, dan video-video menyeramkan lainnya terkait anak, membuat saya benar-benar sesak, enggak bisa nafas. 

Sesekali saya cek kolom komentar videonya, ada yang bilang "Ini orang tuanya kemana? Kok bisa anak dibiarkan sendiri sama pembantu, ya gitu akibatnya! Kasian anaknya, kalau saya sih ogah nyerahin anak ke pembantu!"

atau komentar lain yang kurang lebih isinya sama, menyalahkan orang tua. Orang tuanyalah yang salah sehingga semua kejadian menyeramkan itu terjadi. 

Lalu saya yang "baru saja" menjadi orang tua ini akhirnya terbawa perasaan alias baper. Teringat seberapa sering anak saya yang baru umur satu tahun terjatuh ke lantai lantaran keteledoran saya. Kata orang, anak kecil yang belajar merangkak, belajar jalan, itu wajar-wajar saja kalau sering jatuh. Walaupun kata kebanyakan orang itu adalah hal yang "wajar", tetap saja perasaan bersalah dan menyalahi diri sendiri pasti ada. 

Saya tidak kebayang betapa sedihnya orang tua yang anaknya menjadi korban dalam video-video yang saya sebutkan di atas, lalu banyak orang berkomentar "Itu salah orang tuanya!". Ya ampuuuun, tanpa komentar seperti itu saya yakin orang tuanya sangat-sangat merasa bersalah dan sedih tentunya!

Anak yang disiksa oleh asisten rumah tangga...
Anak yang diculik padahal orang tuanya sedang disampingnya....
Anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh keluarganya sendiri...
Anak yang akhirnya meninggal karena terjatuh dari eskalator di sebuah mall...

Benar, pada akhirnya semua akan menyalahkan orang tua. Walaupun orang tuanya mungkin sudah berusaha sekuat tenaga menjaga anak-anaknya.

Saya pribadi percaya, sekuat apapun usaha kita sebagai orang tua dalam melindungi anak-anak kita, bahwa ada satu Dzat Yang Maha Melindungi dan Dialah Sebaik-baiknya Pelindung, Dzat Yang Maha Menjaga dan Dialah Sebaik-baiknya Penjaga

Maka ketika melihat kejadian-kejadian yang menyayat hati terkait anak, doa saya hanya satu "Ya Allah, jagalah anak-anak dan keluargaku ketika penjagaanku tak sampai kepada mereka. Lindungi anggota keluargaku ketika aku tak mampu melindungi mereka. Engkaulah Sebaik-baik Pelindung, Sebaik-baik Penjaga".

Hanya Bisa Berusaha

Tidak hanya video-video "menyeramkan" itu yang membuat saya sesak nafas, tak lama ini juga muncul isu lama yang dibawa kembali ke permukaan oleh orang-orang yang "tak berakal". Hubungan sesama jenis (homo dan lesbian), incest (hubungan dengan saudara kandung) dan hal-hal menyimpang lainnya. Hal yang hukumnya sudah jelas-jelas diharamkan dalam Islam dari ribuan tahun lalu, kini mereka muncul mencari pembenaran, perlindungan dan pengesahan atas kegiatan menyimpang yang mereka lakukan. Itu baru di Indonesia, belum lagi negara-negara lain yang dengan jelas, bangga dan terang-terangan telah melegalkan perkawinan sesama jenis, atas dasar Hak Asasi Manusia.

Allahu robbiii... Orang tua mana yang tidak khawatir melihat kejadian seperti ini? 

Setahu saya, azab dahsyat yang langsung diberikan tanpa ditunda-tunda oleh Allah adalah adzab yang diturunkan kepada kaum sodom di zaman Nabi Luth. Ketika Nabi Luth sudah tidak berdaya karena diserbu rumahnya oleh kaum sodom, lantaran mereka mengetahui ada pemuda tampan di dalamnya. Ketika Nabi Luth meminta pertolongan kepada Allah, seketika itu juga azab itu datang tanpa penundaan. 

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai kisah Nabi Luth, yang saya ingin tekankan adalah ketika kaum sodom itu kembali menunjukkan diri mereka, akankah ada yang bisa menahan adzab Allah? :(

Kembali lagi mengenai peran kita sebagai orang tua. Sebagai insan yang kelak akan diminta pertanggung jawaban kita tetaplah harus berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi, mencegah dan menjaga anak dan keluarga kita dari hal-hal menyimpang tersebut. Karena hakikatnya, anak dan keluarga adalah amanah yang harus kita jaga.

Setidaknya menurut saya, berdasarkan beberapa artikel yang pernah saya baca, usaha yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga dari bahaya perilaku menyimpang diantaranya adalah:

Perdalam Pemahaman Agama

Pemahaman agama yang baik tentunya adalah kunci sukses mendidik anak dalam Islam. Jika anak-anak kita sudah benar akidahnya, maka apapun jenis kegiatan yang dilarang oleh Sang Pencipta akan senantiasa dijauhi. Ingat, anak-anak akan dengan mudah mempelajari agama ketika orang tuanya sudah lebih dulu belajar dan memahaminya. Intinya orang tua adalah kunci dan memiliki peran penting dalam menanamkan akidah kepada anak-anaknya.

Mengenalkan Batasan Aurat

Menurut saya, mengenalkan batasan aurat termasuk memakai hijab bagi perempuan haruslah ditanamkan sedini mungkin, bila perlu dari balita. Memberikan pemahaman batasan aurat termasuk di dalamnya adalah siapa-siapa saja (mahrom) yang boleh melihat batasan aurat. Dengan begitu, anak-anak akan terbiasa merasa malu sedini mungkin jika auratnya terbuka di depan orang lain. Tentunya jika ada tanda-tanda perilaku yang kurang sopan dari orang atas batasan auratnya maka akan lebih mudah untuk menghindar dan melawan. Lagi-lagi, peran orangtualah yang harus menanamkan nilai dan mengajarkan cara melindungi diri sejak dini.

Memisahkan Tempat Tidur

Rasulullahi shallallahu'alaihi wassallam bersabda: "Suruhlah anak-anakmu shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah mereka pada usia 10 tahun dan pisahkan mereka di tempat tidur" (HR Abu Daud).

Pemisahan tempat tidur dengan orang tua akan mendidik anak belajar mandiri. Pemisahan tempat tidur antar saudara yang berlainan jenis merupakan bentuk pengenalan kepada anak bahwa terdapat perbedaan jenis kelamin yang harus mereka jaga. Sedangkan pemisahan tempat tidur antar saudara yang sesama jenis bertujuan untuk menghindari perilaku menyimpang seperti homoseksual dan lesbian. Itulah mengapa Nabi kita mengajarkan untuk memisahkan tempat tidur anak sedini mungkin.

Pada Akhirnya....

Pada akhirnya, kembali lagi ke awal, bahwasanya pemahaman agama yang benar yang akan mampu membawa kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya. Belajar mengenai etika dalam berhias, menjaga kesucian diri, mengenal apa itu haid dan reproduksi dalam Islam, belajar menjaga pandangan dan tidak berkhalwat dengan lawan jenis, serta pemahaman agama lainnya tentu bisa membentengi kita dari hal-hal yang tidak Allah suka.

dan pada akhirnyaa.... ketika semua usaha terbaik sudah kita lakukan, kita hanya bisa berserah diri... bahwasanya ada satu Dzat Yang Maha Melindungi dan Dialah Sebaik-baiknya Pelindung, Dzat Yang Maha Menjaga dan Dialah Sebaik-baiknya Penjaga

"Ya Allah, jagalah anak-anak dan keluargaku ketika penjagaanku tak sampai kepada mereka. Lindungi anggota keluargaku ketika aku tak mampu melindungi mereka. Engkaulah Sebaik-baik Pelindung, Sebaik-baik Penjaga".

---
Tulisan ini diikutsertakan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia.
#PostinganTematik #BloggerMuslimah




You May Also Like

16 comments

  1. Iya, Bun. Semakin ngeri ya lihat perilaku zaman sekarang. suka takut dan semakin banyak istighfar, mengingat anak-anak kita ke depannya. Dan memang doa lah yang akhirnya bisa kita panjatkan kepada Allah. Karena Dia adalah sebaik-baik pelindung. :)

    ReplyDelete
  2. Betul Mba. Kita kembalikan semua kepada Allah. Karena Dia-lah yang maha tahu atas segala seduatu.

    ReplyDelete
  3. Saya juga agak ngeri mengamati fenomena perilaku menyimpang seperti LGBT di internet termasuk media sosial. Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal yang demikian ya mba.Aamiin

    ReplyDelete
  4. Saya suka langsung teringat anak kalau lihat video atau berita2 menyeramkan. Semoga Allah melindungi anak-anak kita.

    ReplyDelete
  5. makin kesini emang makin gencar banget para pegiat (?) LGBT. intinya sih, kalau kita pelajari agama dengan benar, insya Allah ngga akan ikut terjerumus ke sana.

    ReplyDelete
  6. Akhirnya memang senjata pamungkas seorang ibu adalah doa ya. Semoga semua doa kebaikan kita buat anak diijabah oleh Allah. Aamiin...

    ReplyDelete
  7. usaha tanpa doa sombong, doa tanpa usaha sama saja bohong, pada akhirnya keduanya harus berjalan seiras, kita berdoa agar selalu mendapat lindungan beserta selalu berusaha untuk menjaga dengan segala upaya yang kita punya. itulah senjata orang mukmin akhirnya

    ReplyDelete
  8. Selain pemahaman agama, peran keluarga memang sangat penting agar anak merasa safe di rumah. Jadi nggak nyari "safety zone" di luar rumah, apalagi salah pergaulan

    ReplyDelete
  9. Semoga doa para ibu seperti kita diijabah oleh Allah SWT ya mbak.

    ReplyDelete
  10. Semakin ke sini, penjagaan ke anak-anak makin harus diperketat ya Mbak, plus membawa serta pertolongan kepada Allah, semoga kita semua bisa menjaga anak dan keluarga dari hal yang melenceng dan dibenci Allah ya Mbak.

    ReplyDelete
  11. Kita tak bisa selamanya melindungi anak-anak kita. Tapi kita bisa selamanya mendoakan anak-anak dan suami kita supaya terlindung dari segala bahaya dan malapetaka. Karena Allah sebaik-baik pelindung dan penjaga, kita serahkan semuanya saja padaNya. Kasihan ortu yang terus disalahkan orang lain, padahal mereka justru yang lebih sakit ketika hal buruk terjadi pada anak-anak mereka.

    ReplyDelete
  12. Iya Mba... zaman akhir itu ngerinya... :( :( sering merasa takut menghadapi masa depan terutama untuk anak-anak.
    semoga Allah senantiasa menjaga kita dan generasi kiita. aamiin..

    ReplyDelete
  13. ya allah mbak...terima kasih sudah diingatkan. semoga kita dan anak cucu terlindungi dari beragam penyimpangan.

    ReplyDelete
  14. Tentang video2 "seram" itu, saya belum sempat sesak napas karena biasanya jika sudah viral, saya malah menghindari menontonnya, hiks. Pernah sekali nonton video anak bayi disiksa pembantu, rasanya terbayang2 terus, antara pingin nangis dan marah :(
    dan tentang penyimpangan2 yg marak terjadi, iya setelah berusaha melakukan penjagaan semaksimal mungkin, kita memang hanya bisa berdoa dan tawakkal.

    ReplyDelete
  15. Penyimpangan zaman sekarang macam2 ya :(

    ReplyDelete
  16. Sebenarnya ini termasuk juga perang media, media lebih menonjolkan hal-hal yang bisa tergolong kekerasan atau hal negatif. Sehingga seakan-akan situasinya begitu genting atau darurat. Semoga saja, semua bisa menjadi lebih baik.

    ReplyDelete