Suamiku: Antara Berkata Jujur dan Keracunan

by - January 10, 2018

Suami saya, adalah tipe orang yang blak-blakan kalau ngomong. Kalau enggak suka, ya langsung bilang enggak suka. Pun kalau menyukai sesuatu, dia enggak akan segan-segan memuji dan menghargai, sekecil apapun itu.

Tapi, ada satu hal yang dia paling susah untuk jujur! Tentang masakan saya! Kalau dia mendapati masakan saya keasinan misalnya, dia lebih memilih untuk diam. Diam saja, sambil melanjutkan makan sampai habis. Biasanya nanti setelah saya icip, baru saya akan teriak-teriak sambil merengek minta maaf kalau masakan saya keasinan. Heuheu, mau gimana lagi. Suami saya emang enggak bisa ngomong kalau soal masakan saya. Kalau masakan orang lain mah langsung aja dikomentari kurang ini kurang itu wkwk.

Sampai akhirnya, ada suatu kejadian yang buat saya memohon dengan sangat, agar dia bisa ngomong jujur khusus dalam soal masakan ini kedepannya.

--

Kejadian yang menimpa saya dan suami kemarin (7-1-2018) bisa dibilang pengalaman paling mengerikan yang kami alami seumur hidup. Agak lebay sih yaa.. Cuman tetap aja menurut saya mengerikan, karena keadaannya saya sedang hamil trimester terakhir.


Melihat suami yang keracunan makanan membuat saya deg-degannya minta ampun.

Jadi ceritanya, hari Minggu kemarin kami memutuskan untuk tidak kemana-mana alias diem aja di rumah menyelesaikan beberapa tugas yang sudah ditunggu deadline. Biasanya kalau hari Minggu pasti kami ada agenda ke luar rumah. Minimal pergi menjenguk neneknya anak-anak. 

Menjelang jam makan siang, saya pergi lah ke warung dekat rumah. Kebetulan di sana ada seorang nenek-nenek yang berjualan sayur mentah dan beberapa makanan olahan lainnya. 

Nah, biasanya saya juga kalau beli sayur itu di pasar, yang lokasinya hanya lima menit dari rumah menggunakan motor. Cuman karena saya perhatikan si nenek ini jualannya enggak begitu ramai dari pagi. Terbesit keinginan untuk beli sayurnya di beliau saja. 

Sampai di warung, Sekilas saya lihat sayurannya sudah tidak ada yang fresh alias sudah banyak yang layu. Yah karena sudah terlanjur, saya akhirnya tetap membeli satu jenis sayur (jujur saya enggak tau nama sayur ini dalam bahasa indonesia apa). Sayur yang satu ini kebetulan terlihat paling seger dibanding sayur lain, walaupun tetep agak layu juga -_-

Kemudian mata saya tertuju pada kantong plastik yang isinya ikan tongkol. Karena ikannya tinggal itu aja, saya langsung beli. Saya minta tolong ikannya dibersihkan biar saya nanti tinggal goreng.

Sampai di rumah, saya langsung masak semuanya. Sayurnya saya masak tumis kuah santan dan ikan tongkolnya saya masak goreng sambal.

Setelah semua selesai, saya dan suami langsung makan siang sekitar jam 13.30-13.45. Saya dan suami sama sama lahap memakan sayur yang dimasak kuah santan. Nah, untuk masalah ikan tongkol, karena saya ada riwayat gatal-gatal, saya hanya makan sedikit saja, mungkin sekitar 1-2 sendok teh. Sedangkan suami, dia makan ikannya lumayan banyak. Karena dari dulu emang dia suka makan semua jenis ikan, mau itu ikan laut ataupun ikan air tawar.

Malapetaka terjadi beberapa menit setelah saya selesai beres-beres. Waktu itu tiba-tiba suami merasa agak pusing dan mual. Karena saya lagi ngurus si batita, saya tidak terlalu menghiraukan dan hanya menyarankan untuk istirahat saja. 

Tapi suami bilang sakit kepalanya makin berat. Nyut-nyutan di bagian belakang. Keluhan lainnya juga muncul: jantung berdebar sangat kencang, muka dan sekujur badan berubah merah padam, mata memerah, agak mual, sesak nafas dan gatal-gatal. 

Waduh, ini masalah serius! 

Saya mencoba tidak panik, padahal paniknya minta ampun karena pandangan suami saya katanya udah agak kabur. Matanya juga semakin memerah.

Saya mencoba rileks dan menyempatkan untuk browsing dengan kata kunci gejala-gejala yang dialami. Sampai ketemu artikel bahwa itu gejala alergi akut atau mungkin saja keracunan makanan. Harus segera pergi ke dokter sebelum terlambat. 

Kalau terlambat? Artikelnya menjelaskan bisa jadi akan kehilangan kesadaran, bahkan akibat yang paling fatal adalah kematian.
:(

Saya dan suami langsung berangkat ke IGD waktu itu juga, dan IGD terdekat adalah puskesmas di wilayah Gerung.

Sampai puskesmas, petugas langsung bisa melihat gejala alergi akut yang dialami suami saya. Suami akhirnya disuruh berbaring, kemudian disuntik, setelah itu diberi oksigen karena suami saya sudah sesak nafas.

Ketika detak nadinya diperiksa, masih sangat tinggi. Sekitar 150an, padahal orang normal seharusnya dibawah 100.

Lalu dokter menyarankan untuk banyak banyak minum air kelapa atau susu murni. Waktu itu saya sudah muter-muter nyari air kelapa enggak dapet, akhirnya beli HydroCoco. Kata dokter, HydroCoco itu cairan yg berasal dari air kelapa alami, jadi sama saja katanya. Duh, enggak maksud promosi lhoo yaa..

Air kelapa atau susu murni itu sifatnya dapat menetralisir. Jadi waktu itu saya langsung beliin hydrococo yang ukuran 500ml dan saya suruh abisin semua :D

Kondisi setelah minum air kelapa, lumayan membaik walaupun muka masih merah padam

Alhamdulillah perlahan tapi pasti detak nadinya menurun dan muka merahnya mulai memudar. Nyut nyut di kepalanya juga semakin membaik. Total waktu yang diperlukan dari awal gejala keracunan sampai lumayan sadar diri itu sekitar 4 jam. Kemudian, setelah dikasi ijin pulang oleh dokter dan minum obat yang diresepkan, suami saya tertidur pulas. Bangun-bangun alhamdulillah sudah normal kembali.

Hmmm... Lumayan menegangkan. Saya yang dalam kondisi hamil mikirnya udah kemana-mana aja.

Iseng setelah suami bangun saya bertanya: "emang enggak ngerasa ada yang aneh pas lagi makan?"

Surprisingly suami jawab: "ada sihh rasa anehnya  aneh banget malah. Tapi saya nggak peduliin, takut kamunya tersinggung"

Jlebbb.. Seketika berpelukan *eaaaa.
Tapi enggak lama lama kok pelukannya! Saya langsung protes! "Seharusnya ya ngasi tau! Jangan diem aja hiiiks. Kan jadi malapetaka kayak gini beibh!".

Akhirnya kami sepakat, kalau apapun itu kami harus saling terbuka, saling memberi masukan, saling menghargai pendapat. Kalau saya ditegur, harus nerima, pun sebaliknya.

Yaaahh.. Ambil positifnya aja, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.

Oiya.. Sekedar tambahan info aja, pas sampai rumah kembali dari Puskesmas, beberapa anggota keluarga udah berkumpul. Yang bikin saya kaget, ketika saya cerita kalau sebelumnya saya membeli ikan tongkol itu di warung si nenek. Mereka langsung bilang kalau nenek itu emang udah kebiasaan dari dulu suka nyimpen makanan/barang dagangan terlalu lama. Jadi walaupun udah enggak fresh tetep aja dijual. Makanya jarang ada yang mau belanja di beliau.

Duh, pantesan aja sih pas kesana emang sayurnya kebanyakan udah layu semua. Tapi di satu sisi, saya kasian aja karena beliau udah tua dan masih semangat berdagang. Yaaah.. Mungkin emang sudah nasib malang yang menimpa kami di hari Minggu yang mendung itu.

Lain kali emang harus lebih hati-hati sebagai konsumen dalam memilih makanan yang dikonsumsi.

Tips dari saya kalau nemu gejala-gejala seperti yang saya sebutkan di atas, jangan nunggu lama-lama yaa.. Langsung ke dokter!

Semoga bermanfaat :)

You May Also Like

5 comments

  1. Serem... Syukur udah berlalu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, jadi pelajaran ke depannya

      Delete
  2. Tongkol yang sudah ga segar memang resiko beracun mba >,< jadi ikutan deg2an bacanya. Iya sih, kadang suami sangking ingin menghargai masakan istri malah nggak jujur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, harus lebih hati-hati lagi dalam memilih makanan

      Delete
  3. hihihi, saking menghargai masakan istri ya Mbak, alhamdulillah semuanya bisa terlewati ya Mbak. :)

    ReplyDelete