Ada Tempra dibalik Cerita Menyusui dan Hamil Muda



Jika teman-teman sebelumnya sudah pernah membaca postingan saya yang berjudul Hamil Sekaligus Menyusui, Amankah? maka teman-teman tentunya sudah mengetahui kalau sekarang saya lagi hamil anak kedua di saat anak pertama saya masih bayi. Saya tahu diri saya hamil kedua di saat anak saya yang pertama (Yusuf) menginjak umur delapan bulan. Sekarang Yusuf sudah memasuki usia satu tahun, alhamdulillah.

Bagaimana rasanya hamil sekaligus menyusui? Apa enggak capek? Enggak khawatir anaknya kenapa-kenapa? Kenapa enggak sekalian disapih aja sih anaknya, kan kasian!

Itu adalah serentetan pertanyaan yang sudah biasa saya dengar semenjak para tetangga dan kerabat mengetahui perihal kehamilan kedua saya ini. Well, awalnya susah juga menjelaskan ke mereka mengenai alasan saya harus bertahan menyusui anak pertama walaupun sedang hamil muda. Namun sekarang saya sudah mulai agak terbiasa alias woles aja, enggak usah terlalu dimasukkan ke dalam hati apalagi sampai dibawa stress. Karena ibu hamil kan sebisa mungkin harus selalu happy, iya enggak moms?

Pertanyaan lain yang juga sering muncul adalah: "Enggak pake KB yaa? Sengaja?"

Dibilang sengaja enggak pake KB sebenarnya enggak juga sih. Hanya saja emang waktu itu (ketika awal-awal melahirkan) banyak yang bilang kalau sebenarnya menyusui itu adalah KB alami. Jadi saya enggak mau terburu-buru dan memutuskan untuk memasang KB setelah menstruasi saya teratur. Waktu itu, saya belum juga menstruasi sampai akhirnya Yusuf berumur enam bulan. Kebetulan pada saat itu saya baru diterima kerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Mataram. Alhasil, karena kesibukan, saya baru sempat ke puskesmas dua bulan setelah menstruasi pertama pasca melahirkan. Sudah ketebak kan akhir cerita ini gimana? Yaps, di saat saya ke puskesmas dengan tujuan untuk memasang KB ternyata di saat itu juga saya mengetahui kalau saya sudah hamil sekitar 8 minggu. Wew! 

"Terus, kenapa anaknya masih dikasi ASI? Bukannya enggak aman yaa buat janin?"

Oke, kalau teman-teman belum baca postingan saya sebelumnya tentang Hamil sekaligus Menyusui, Amankah? Saya sarankan teman-teman baca itu dulu yaa.. Karena di sana saya sudah jelaskan bahwa dokter tempat saya konsultasi tidak melarang saya untuk tetap meng-ASI anak pertama. Alasannya adalah karena kehamilan saya termasuk kehamilan yang kuat, tidak terlalu banyak keluhan dan tidak mual-muntah. Dokter saya juga menjelaskan sekiranya saya tidak kuat atau lemas ketika menyusui maka sebaiknya saya tidak melanjutkannya. Namun syukurnya, saya masih diberikan kekuatan oleh Sang Kuasa untuk tetap memberikan ASI untuk anak saya. Bagaimana pun juga, anak itu adalah amanah dan sudah menjadi haknya dia untuk memperoleh ASI selama dua tahun. Selama saya kuat dan mampu, insyaallah saya akan selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk si buah hati di masa golden-agenya. 

Oiya, sekedar informasi buat teman-teman... bahwasanya makanan yang dimakan oleh seorang ibu hamil itu yang pertama kali mendapatkan nutrisi adalah bayi yang di dalam kandungan. Jika sedang menyusui, maka urutan kedua yang mendapat aliran nutrisi adalah payudara sebagai tempat produksi ASI. Baru yang terakhir adalah nutrisi untuk sang ibu. Kesimpulannya, jika si ibu dalam keadaan baik-baik saja (tidak lemas) maka insyaallah bayi yang ada di dalam perut juga akan baik-baik saja. Tentu artinya si ibu sudah menjaga pola makan dan menjaga kebutuhan nutrisinya dengan baik. Setidaknya itu adalah ilmu yang berlaku secara umum. Namun, kembali lagi bahwa kondisi masing-masing orang berbeda-beda. Hendaknya emang memeriksakan dulu dan konsultasi ke ahlinya jika memang mau bertahan menyusui di saat hamil.

Lalu, keluhan apa saja yang sering dihadapi ketika memilih bertahan menyusui di saat hamil?

Memilih tetap menyusui di saat hamil tentunya tidak mungkin berjalan tanpa adanya keluhan, rintangan dan hambatan. Keluhan yang paling berarti bagi saya adalah masalah psikologis. Terutama di saat awal-awal mengetahui kehamilan kedua ini. Saat itu, tekanan datang dari banyak pihak kalau saya harus menyapih Yusuf. Saya waktu itu beberapa kali mencoba menyapihnya namun tetap saja sulit. Saya masih ingat ketika saya dipaksa harus tega membiarkan dia menangis meronta-ronta sampai kejang-kejang karena harus mematuhi perintah keluarga besar untuk menyapihnya. Masih segar diingatan saya suara tangisnya yang tiada henti ketika bangun tengah malam dan dia tidak menemukan ASI-nya seperti biasa. 

Namun itu dulu. Ketika saya baru awal-awal mengetahui diri saya hamil setelah periksa ke puskesmas. Semua menyuruh saya untuk menyapih Yusuf. Suami juga? Dia termasuk orang yang enggak tega melihatnya, namun juga khawatir omongan orang-orang akan benar adanya. Omongan orang-orang yang gimana? Yah, mereka banyak yang bilang kalau Yusuf nantinya akan tumbuh menjadi anak yang "kurang" dari segi otak jika saya memilih tetap menyusui. Maksudnya gimana? Entahlah, saya tidak mau membahas lebih lanjut karena masih terlalu kesal jika mengingat cara mereka men-judge saya dan anak saya.

Naluri saya sebagai ibu berkata lain. Saya waktu itu mencoba berkomunikasi baik-baik kepada suami bahwa omongan orang-orang itu tentu tidak benar. Setidaknya saya sudah mencoba menyapih Yusuf tapi tetap saja tidak berhasil. Malah Yusuf akhirnya jatuh sakit karena asupan ASInya berkurang dan belum mau menerima susu formula sebagai gantinya. Akhirnya beberapa hari setelah "perang batin" itu, saya pergi berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa menyusui ketika hamil itu ternyata aman-aman saja untuk kasus saya yang tidak memiliki masalah serius dalam kehamilan anak kedua.

Setelah masalah yang satu terselesaikan, timbul lagi masalah lain. Di saat saya bersemangat memberi ASI lagi untuk Yusuf, di saat itu Yusuf mengalami demam yang berkelanjutan. Demam tiga hari, kemudian dua hari berikutnya demam lagi. Mungkin karena "perang batin" yang terjadi sebelumnya.  Dia menjadi kurang bersemangat dan mudah lemas karena demam. Terlebih umurnya baru delapan bulan dan belum terlalu terbiasa dengan makanan MP-ASInya. Jadinya di saat bersamaan nafsu makannya juga berkurang yang menyebabkan demamnya semakin parah.

Apa yang saya lakukan ketika Yusuf demam?

Hal pertama yang saya pelajari selama menghadapi anak yang sedang demam adalah hindari panik. Jujur, ketika pertama kali mendapati anak demam saya dan suami agak panik karena waktu itu kami tergolong sebagai orang tua baru. Namun belajar dari pengalaman sebelumnya, sekarang kami bisa lebih tenang jika tiba-tiba anak kami sakit. Toh panik juga enggak bakalan bisa menyelesaikan masalah kan?

Lalu apa yang saya lakukan ketika Yusuf demam setelah beberapa kali dicoba disapih? Setelah menghindari panik setidaknya ada beberapa hal yang saya lakukan untuk menurunkan panas pada anak. Saya langsung bagikan aja yaa tipsnya seperti di bawah ini:


1. Selalu sedia termometer
Sebagai orang tua yang memiliki anak bayi, termometer sudah menjadi sebuah kebutuhan yang harus ada di kotak P3K. Ketika demam, ukur dulu suhu tubuh anak, jika masih dibawah 37 derajat celcius dan anak masih terlihat aktif maka sebaiknya hindari dulu pemberian obat. Home treatment seperti pemberian obat herbal masih bisa dijadikan harapan untuk menurunkan panas anak.

2. Pemberian ramuan herbal
Ramuan herbal yang selama ini manjur menurut saya adalah parutan atau irisan bawang merah ditambah minyak telon/minyak kayu putih. Setelah dicampur dan bawang merahnya sedikit di remas-remas, oleskan merata ke seluruh tubuh terutama bagian kaki. Setelah itu pakaikan kaos kaki agar kakinya tetap hangat. Pengalaman saya, Yusuf ketika demam dibawah 37 derajat kakinya tidak terlalu panas bahkan cenderung agak dingin.

3. Berikan cairan lebih banyak dari biasanya
Ketika anak demam, usahakan jangan sampai ia dehidrasi. Jika masih di bawah 6 bulan, ASI harus terus diberikan. Jika sudah lebih 6 bulan, maka sudah bisa diberikan air putih, jus atau bubur yang agak cair agar si anak tidak kekurangan cairan.

4. Atur suhu ruangan dan pakaian yang dikenakan
Ketika anak mulai menunjukkan gejala demam, suhu ruangan sebisa mungkin jangan sampai panas karena akan menjadikan suhu tubuhnya semakin tinggi. Selain itu, hindari penggunakan pakaian yang tebal karena pori-porinya akan tertutup sehingga panas tubuhnya akan mendendap. Beda halnya jika menggunakan pakaian yang longgar dan tipis maka kulit jadi bisa bernafas untuk mengeluarkan panas dari dalam tubuhnya.

5. Mandi pakai air hangat
Poin 1 sampai 5 ini kita masih membahas demam dengan suhu di bawah 37 derajat yaa.. Jadi kalau anak mau dimandikan boleh saja, atau mungkin sekedar dikompres. Tapi ingat, harus menggunakan air hangat. Karena bisa berakibat fatal apabila tubuh dengan suhu tinggi diberi air dingin. Tubuh akan menganggap suhu luar lebih rendah sehingga tubuh merasa perlu untuk membuat suhu badan lebih tinggi. Sebaliknya, jika dikompres atau mandi/dilap menggunakan air hangat, tubuh merasa perlu untuk menurunkan suhu badan karena suhu di luar dirasa lebih tinggi.

6. Skin to skin
Pengalaman saya, anak yang demam itu sudah pasti jadi tambah rewel dan maunya digendong terus sampai terlelap. Nah, pada saat seperti ini mom and dad bisa melakukan yang namanya skin to skin ketika menggendong anak. Jadi anak dan orang tua yang menggendong sama-sama tidak mengenakan baju agar bisa saling bersentuhan kulit. Biasanya lama kelamaan panas dari tubuh si anak akan berpindah ke tubuh si ayah/bunda. Hal ini setidaknya bisa membuat si anak lebih nyaman karena suhu badannya sedikit berkurang.

7. Jika suhu badan sudah mencapai 37-38, berikan paracetamol
Jika suhu badannya tidak turun-turun juga dan mendekati angka di atas 37 derajat maka sudah seharusnya diberi paracetamol. Pemberian paracetamol ini bertujuan untuk membantu menurunkan sedikit suhu tubuh agar anak merasa nyaman. Ingat lho moms anak yang dibiarkan demam tinggi terlalu lama bisa bisa terkena Step. So, selalu sedia paracetamol yaa..

Kalau saya, paracetamol yang menjadi andalan saya selama ini adalah Tempra Syrup. Kenapa saya memilih Tempra Syrup? Karena menurut saya Tempra ini memiliki banyak kelebihan dibanding obat penurun panas lainnya. Keunggulan yang dimiliki Tempra adalah seperti yang terangkum di bawah ini:

Kelebihan Tempra Syrup Paracetamol:

1. Botol sirup dalam keadaan tersegel rapi, yang artinya sudah dipastikan isinya terjamin dan terbebas dari debu-debu dan virus yang kemungkinan timbul dari proses distribusi;
2. Tutup botolnya unik menurut saya, karena saya baru kali ini menemukan tutup botol yang kokoh dan kuat serta tidak mudah terbuka. Ada cara khusus untuk membuka tutup botol. Artinya, walaupun segel sudah dalam keadaan terbuka setelah dipakai, isi sirupnya tetap terjamin;
3. Dosisnya tepat, terdapat wadah takaran sehingga tidak akan menimbulkan over dosis atau kurang dosis;
4. Tempra Syrup tersedia dalam rasa anggur yang pastinya disukai oleh anak-anak;
5. Bebas alkohol, dan ini yang paling penting. Artinya, Tempra Syrup ini aman banget di lambung;
6. Petunjuk pemakaiannya jelas mulai dari dosis hingga tutorial cara membuka tutup botol yang terdapat di bagian dalam kemasan. Seperti yang saya sebutkan pada nomor 2 kalau tutup botolnya tergolong unik sehingga ada tutorial tersendiri cara membukanya;
7. Tidak perlu dikocok dan enggak perlu khawatir lagi kalau sirupnya kurang kental atau terlalu kental karena Tempra Syrup sudah larut 100%.

Tempra Syrup tidak hanya saya berikan ketika demam pasca mencoba menyapih Yusuf tentunya, karena saya selalu sedia Tempra Syrup untuk jaga-jaga. Seperti hari ini misalnya. Ceritanya tadi pagi saya sudah janji untuk mengunjungi keluarga yang jarak rumahnyanya lumayan jauh dari rumah. Kebetulan tadi pagi agak mendung, jadinya saya berangkat aja mumpung belum hujan.

Saya berdiam di sana sekitar 3 jam dan akhirnya memutuskan pulang sekitar pukul 10.00 pagi. Waktu itu di perjalanan mataharinya tiba-tiba terik, padahal ketika kami berangkat cuacanya agak mendung. Sampai di rumah sekitar pukul 11.00 dan itu biasanya adalah waktu tidur siangnya Yusuf.

Saat tiba di rumah, saya sempat kaget karena kepalanya Yusuf agak panas. Apa karena perubahan cuaca yang cukup drastis ya? Karena ngantuk dan sedikit rewel, akhirnya Yusuf keburu terlelap dan saya belum sempat melakukan treatment apapun.

Sejam kemudian Yusuf bangun dan saya semakin kaget karena suhu badannya tinggi sekali. Setelah mengukur dengan termometer, ternyata benar suhu badannya mencapai 38,5 derajat. Tanpa pikir panjang, saya langsung berikan Tempra Syrup. Sambil terus melakukan skin to skin dengan Papanya (karena saya tidak kuat kalau menggendong terlalu lama), akhirnya suhu badannya semakin lama semakin menurun. Dua jam kemudian suhunya di angka 36 derajat alhamdulillah. Dia kembali aktif dan mengoceh seperti biasa walaupun badannya masih terasa hangat. Perlahan saya coba beri makan roti. Syukurnya dia mau makan.


Menjelang sore hari, turunlah hujan. Padahal sebelumnya panas matahari terasa sangat menyengat. Mungkin benar, Yusuf demam gara-gara perubahan cuaca yang drastis. Dia pun mengantuk setelah beberapa jam sebelumnya diberi obat, bermain dan sedikit makan roti. Sampai saat ini suhu badannya sudah kembali normal. Hanya saja bagian kepala masih terasa hangat. Syukurnya karena cuaca bersahabat, tidurnya pun nyenyak dan saya bisa melanjutkan tulisan ini.

Oiya, saya sedikit heran. Awalnya saya membuat draft tulisan ini hanya mau curhat pengalaman Yusuf tiba-tiba panas tinggi setelah dulu dicoba disapih (sekitar empat bulan yang lalu). Sekaligus mau cerita pengalaman cara ampuh menangani demamnya. Namun di luar dugaan dan perkiraan, Yusuf hari ini tiba-tiba panas tinggi dengan kronologi yang saya jelaskan di atas. Semoga saja besok kondisinya sudah fit kembali, amiiin...

Anyway, Thank you so much Tempra :)

Itulah cerita saya tentang menyusui, hamil muda dan cara mengatasi demam pada anak Semoga pengalaman yang saya tulis di postingan ini ada manfaatnya yaa.. Mungkin bunda yang lain ada cerita juga tentang menurunkan demam anak? Share di kolom komentar yuk! 

---
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra




41 comments:

  1. Setelah melahirkan anak kedua aku juga lama ngga mens mba, enam bulanan ada kayaknya ky dirimu. Sehat2 yaa Yusuf dan dedek di peruuut..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin. Makasi doanya mba :)

      Delete
  2. Penanganan sudah tepat.. :)

    ReplyDelete
  3. Halo Mbak, cara yang dilakukan kurang lebih sama dengan saya juga.Obatnya pun sama heheheh. saya sudah pakai tempra ini sejak anak pertama yang sekarang sudah 6 tahun. Terpercaya banget pokoknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mba, wah ternyata sama yaa ^^

      Delete
  4. Iparku juga sama. Baby pertama baru 1 tahun, eh udah hamil lagi. Tapi dia KB lho, cuma kebobolan, hihihi. Gak masalah sih kata dokternya kalau mau breast feed, cuma keponakanku emang nolak :) Anyway, waktu kecil aku cocok banget pakai Tempra ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bisa juga yaa kebobolan kalau KB. Apalagi aku yg gk pake hihi

      Delete
  5. aku baru punya anak satu mba utk mengatasi demam hampir sama dan sudah tepat :)
    anyway aku juga gak KB,intinya sih KB atau gak KB itu sama aja kalo KB kan mencegah secara medis kalo gak KB kan mencegah secara alami betul gak?? hihi:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, bener. Cuman kalau gk KB tiep bulan jadi deg degan yah hehe

      Delete
  6. Aku hamil anak kedua itu pas anak pertama usia tiga tahun, mba. Itu juga banyak yg komen. :D

    Tapi aku mah tenang aja. Alhamdulillaah, sekarang bisa main bareng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya komen orang mah gk bakal habis habisnya. Sehat terus ya mba

      Delete
  7. Semoga kehamilannya lancar sampai lahiran. Stay strong dan sehat bumilnya dan ga usah banyak dengerin hal negatif hihihi perubahan cuaca emang suka bikin baper, asal tenang semuanya akan baik aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin thanks a lot mba doanya

      Delete
  8. Tempra memang terbukti ampuh dari dulu menurunkan panas anak

    ReplyDelete
  9. KB alami bukan berarti berhasil 100%, lho. Bahkan KB spiral, suntik, atau pil juga berpotensi "kebobolan". Ya alhamdulillah mendapat amanah lagi dari Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, bersyukur di setiap keadaan emang lebih baik :)

      Delete
  10. Waw kereen. Kesehatannya prima. Alhamdulilah ya. Saya malah 9 tahun ga haid mba. Anak pertama full asi dua tahun dan ga haid. Berehenti asi, dua bulan n berikutnya ternyata hamil anak kedua. Begitu terua sampai selesai asi dua tahun. Sehat terus ya untuk dede ny

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata ada yg kayak gitu ya.. Beruntung hamilnya setelah ASInya full dua tahun ya

      Delete
  11. Kasih sayang ibu mah mengalir terus ya mba. Berjuang nyusuin bentuk rasa cinta kitaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah,kasih ibu tiada duanya

      Delete
  12. Sama. Aku jg bersikeras menyusui saat hamil. Akhirnya anak pertama disapih 2 bln jelang kelahiran anak ke2. Skrg keduanya alhamdulillah sehat. Ngomongin soal demam sy biasa cuma mengompres dengan air hangat atau dibalut bawang merah. Kalau demam ga turun2 tempra kayaknya bisa diandalkan jg ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, aku jg lagi berjuang biar terus ngASI. Kalau demam gk turun turun bisa dikasi tempra mba :)

      Delete
  13. Mencoba kembali mampir Mbak. Semoga kali ini bisa masuk ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah udh bisa mba :D

      Delete
  14. Tempra emang emak zaman now hihihihi

    ReplyDelete
  15. Ah terima kasih tipsnya, sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  16. Semangat terus menyusuinya Mba', semoga sehat selalu sekeluarga ya, Aamiin. :)
    Sukses lombanya. :)

    ReplyDelete
  17. Kakak ku juga pas anak nya umur 11 bulan adik nya udah lahir lagi.. hehehe.. los sih mba rata rata yahh.. tapi ya gitu repot banget jadinya.. enak nya sekalian gedein bareng bareng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya awalnya aja yg repot, nanti pas gedean dikit mudahan gk repot lagi hhe

      Delete
  18. makasih sharingnya mbak..sangat bermanfaat utk persiapan pny anak nanti..

    ReplyDelete
  19. wah selamat y mba sama ni kita lagi hamil anak kedua bedanya anakku yg pertama udah 4 tahun xixixi semoga Yusuf sehat2 ya nak kalo demampun aku stock tempra dirumah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sehat terus yaaa bumil.. :)

      Delete
  20. Salut mbak. Ga kebayang deh itu repotnya waktu hamil saat anak pertama masih kecil

    ReplyDelete
  21. Waa.. selamat ya mba atas kehamilan keduanya.. semoga ibu dan bayinya sehat2 terus ya mba..

    ReplyDelete