Melirik Pesona Sekolah Islam Terpadu

by - October 10, 2017

source: pexels.com

Banyak orang tua yang kini semakin sadar akan pentingnya pendidikan karakter bagi anak-anak mereka disamping pengetahuan/teori yang diperoleh dari sekolah umum. Sekolah Islam Terpadu menurut saya sudah menjadi tren yang kini berkembang pesat, setidaknya di Mataram NTB. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari portal berita Republika bahwa jumlah Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang ada di NTB setidaknya ada 90 sekolah dengan berbagai tingkatan mulai dari Paud hingga SMA.

Angka yang lumayan banyak menurut saya, dan menunjukkan bahwa antusias masyarakat untuk menitipkan anak-anaknya di SIT sudah lumayan tinggi. Alasan utamanya, masih menurut saya pribadi, adalah dikarenakan kesibukan orang tua bekerja dan ditambah lagi kekhawatiran akan pergaulan anak jaman sekarang. Sehingga para orang tua akan merasa lebih tenang jika anak-anak mereka disekolahkan di SIT, dimana penerapan pendidikan berkarakter islami sangat dijunjung tinggi. 

Sebenarnya mata pelajaran yang diperoleh oleh para siswa di sekolah islam terpadu sudah dipastikan sama dengan materi pelajaran yang ada di sekolah umum, karena sama-sama terdaftar dan diawasi oleh Dinas Pendidikan. Hanya saja di sekolah islam terpadu ada beberapa tambahan pengetahuan dan nilai-nilai islami yang ditekankan untuk diketahui dan dipraktekkan oleh para siswa. Sehingga ada target pencapaian tersendiri seperti minimal harus hafal ayat al-Qur'an sekian juz, harus paham beberapa penggalan hadits arba'in, dan sebagainya.

Kira-kira apa lagi "pesona" dari sekolah islam terpadu sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi para orang tua? Setidaknya ada beberapa fakta yang berhasil saya rangkum berdasarkan pengamatan saya di salah satu SD IT yang berada di Kota Mataram.

Masuk Gerbang Sekolah

Ketika memasuki pintu gerbang sekolah khususnya ketika mengantar dan menjemput anak, suara merdu pembacaan al-Quran (murottal) menjadi "salam" pertama yang didengar oleh para wali murid. Tentunya seorang guru (ustadz/ustadzah) yang sudah menunggu dengan senyum ikhlas dan lebar di depan gerbang juga menjadi pemandangan yang menenangkan.

Sebelum Bel Masuk Berbunyi

Setelah anak-anak bersalam pamitan dengan orang tua dan dilanjutkan dengan memberi salam kepada ustadz/ustadzahnya, maka seperti kebiasaan pada umumnya anak-anak akan masuk kelas untuk menaruh tas. Tidak lama setelah itu "pemandangan unik" lainnya segera terlihat ketika anak-anak dengan sendirinya akan keluar kelas. Bukan untuk duduk-duduk di pinggir kelas untuk mengobrol dengan temannya, tetapi untuk bergegas ke tempat wudhu. 

Sebelum bel masuk berbunyi, mereka sudah dibiasakan berwudhu terlebih dahulu. Untuk apa? di sekolah islam terpadu, bel berbunyi sekitar pukul 07.30 menandakan sudah masuknya waktu Dhuha. Ketika bel berbunyi, maka secara otomatis mereka sudah bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Dhuha.

Sebelum Memulai Pelajaran

Shalat Dhuha dilaksanakan dari pukul 07.30 dan akan selesai sekitar 15 menit setelahnya. Sebelum memulai pelajaran pada pukul 08.00, kegiatan awal yang dilaksanakan adalah menambah hafalan kosakata bahasa asing baik itu Bahasa Inggris maupun Bahasa Arab.

Sebelum Jam Istirahat

Satu jam sebelum waktu istirahat, anak-anak terlihat berkumpul membentuk kelompok dan duduk bersila. Ada yang duduk di "berugak", ada yang duduk di teras dengan beralaskan tikar, ada yang duduk di dekat pohon dan ada juga yang di dalam kelas. Mereka duduk mengantri, terlihat sibuk membuka lembar demi lembar al-Qur'an atau Juz Amma sebelum mendapat giliran disimak oleh Ustadz/Ustadzahnya untuk menyetor hafalan al-Qur'an.

Ketika Jam Istirahat

Jam istirahat di sekolah islam terpadu ini dikenal dengan istilah "Pembiasaan Adab Islami". Maksudnya adalah, di saat jam istirahat anak-anak didik untuk membiasakan sunnah-sunnah Rasulullah. Misalnya ketika minum dan makan harus menggunakan tangan kanan dan dilakukan dengan cara duduk, sebelum dan setelah makan mengucapkan doa dan mencintai kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya.

Setelah Jam Istirahat

Setelah jam istirahat biasanya anak-anak akan berwudhu kembali. Karena setelah itu mereka akan belajar membaca Al-Qur'an. Metode yang digunakan adalah Metode Wafa: Belajar Membaca Al-Qur'an Metode Otak Kanan.

Sebelum Pulang Sekolah

Menjalani berbagai macam aktifitas dari pagi sampai siang tentu memerlukan energy yang lumayan besar, sehingga sebelum pulang ke rumah anak-anak sudah dipastikan dalam keadaan kenyang. Setelah makan siang, anak-anak kembali dibiasakan untuk mengerjakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu shalat Zuhur.

Life Skill

Life skill adalah istilah yang digunakan untuk kegiatan ekstrakulikuler. Setiap anak diharuskan mengikuti salah satu pilihan life skill yang ada yaitu Bahasa Inggris, Silat, Mewarnai, Cooking, Seni Gerak dan Tari dan Seni Membaca Al-Qur’an.

Berenang

Berenang merupakan kegiatan rutin yang dilakukan sebulan sekali. Diharapkan dengan kemampuan anak-anak menguasai gaya renang bisa mempermudah mereka dalam menerima pelajaran di dalam kelas. Selain itu, berenang merupakan salah satu bentuk penerapan sunnah Rasulullah SAW.
**
Beberapa poin di atas hanyalah sebagai contoh kegiatan anak-anak di salah satu sekolah islam terpadu di Kota Mataram, NTB yaitu SDIT Ulul Albab yang terletak di Lingkungan Babakan.

Oiya, belum lagi ketika ada peringatan hari-hari penting dalam kalender hijriah seperti tahun baru islam, sudah pasti ada kegiatan meriah yang dilaksanakan seperti lomba-lomba untuk para siswa dan wali murid. Ketika bulan ramadhan pun demikian, sudah pasti banyak kegiatan islami yang dilaksanakan seperti mabit, buka puasa bersama, dan lain-lain. 

Menjelang akhir tahun pelajaran, ada “Uji Publik” untuk menguji hafalan al-Qur’an para siswa. Karantina al-Qur’an pun dilaksanakan sehari sebelumnya untuk mempersiapkan hafalan mereka. Setelah itu, akan dilaksanakan wisuda tahfidz yang (menurut saya) merupakan momen berharga, terharu dan membanggakan bagi para orang tua.

Banyak hal lain yang belum saya sebutkan seperti kegiatan rutin yang dilakukan oleh para guru sekali sepekan yaitu setoran hafalan al-Qur’an, life skill memanah dan mengikuti training dalam rangka meningkatkan kemampuan mengajar dan mendidik. Uniknya, di sekolah islam terpadu ini memang kegiatan peningkatan mutu guru ditekankan pada kedua sisi baik fisik dan nonfisik, tidak hanya aspek duniawi tapi juga ukhrawi.

Tentunya semua program yang dirancang tersebut adalah salah satu bentuk ikhtiar guru untuk mencetak generasi yang lebih baik ke depannya. Namun kembali lagi, peran guru di sekolah tidak akan berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan bimbingan dari orang tua di rumah.

Baca juga: Peran Guru dalam Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Baiklah, kurang lebihnya begitulah pesona sekolah islam terpadu menurut pandangan saya. Bagaimana? Mungkin ada yang mau menambahkan atau sekedar sharing pengalaman/sudut pandang tentang sekolah islam terpadu? :)



You May Also Like

2 comments

  1. Anak-anak saya juga sekolah di SDIT tapi sistemnya asrama. Seminggu sekali baru pulang.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah sudah banyak sekolah islam terpadu ya Mbak..sehingga dasar agama untuk anak-anak terbantu selain dari rumah.
    Anak saya sekolah di sekolah islam tapi buka terpadu. Hampir sama dengan di atas tapi porsi umumnya juga ada. Terus panggil guru Bapak dan Ibu Guru bukan ustadz/ustadzah..:)

    ReplyDelete