Begini Cara Perempuan Sasak Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadhan

source: pixabay
Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang kedatangannya sangat dinanti-nanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Bagaimana tidak, di dalamnya terdapat begitu banyak hikmah dan maghfirah sehingga orang-orang ramai berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Tujuannya tak lain adalah untuk meraih pahala dan keberkahan.

Mengenai postingan kali ini, sebelum membahas panjang lebar tentang tradisi perempuan suku sasak dalam berbagi kebahagiaan di bulan ramadhan, saya sedikit mau berbagi cerita.

Jadi nih, di Lombok sekarang sudah ada komunitas bloggernya lho... Eh bukan komunitas resmi sih ya, kayak perkumpulan di grup whatsapp gitu. Saya sih nyebutnya komunitas blogger aja biar sekalian jadi doa. Semoga ke depan komunitas blogger lombok emang beneran nyata adanya.

Emang jumlah blogger di Lombok ada banyak ya sampai bikin komunitas segala? Hmmm, enggak nyampe ratusan sih! Jumlah mah enggak masalah, yang penting silaturrahimnya! Iya enggak??? ;)

Nah sebagai sarana untuk memperkuat silaturrahim antar blogger, kira-kira awal bulan Juni kemarin kami sepakat ngadain Arisan Blogger Lombok. Yang menang arisan tiap bulannya akan menentukan satu tema untuk kemudian ditulis oleh blogger lainnya di blog mereka. Bulan ini (bulan Ramadhan) adalah bulan pertama nih arisannya di mulai.

Pemenang arisan pertama ini namanya mas Iqbal dari www.serpihansurgaku.com dan tema yang ditentukan oleh mas Iqbal adalah "Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadhan"

Awalnya saya bingung mau nulis tentang apa. Bukan karena temanya yang sulit, tapi lebih ke menyesuaikan dengan niche blog. Dan karena blog nyonyabaiq.com ini secara umum membahas tentang wanita maka saya putuskan untuk berbagi cerita mengenai Cara Perempuan Sasak Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadhan.

Oke, berbagi kebahagiaan di bulan ramadhan versi nyonyabaiq.com ini tidak terlepas dari tradisi yang ada di Pulau Lombok dalam menyambut bulan suci. Tradisinya bernama Roah Mbersinan/Mersinan.

Apa itu Roah Mersinan?

Suku sasak adalah suku asli masyarakat Lombok, tempat di mana saya lahir dan tinggal saat ini. Salah satu tradisi yang sangat terjaga dan dilestarikan oleh masyarakat sasak adalah Roah. Dalam bahasa Indonesia kita nyebutnya "Syukuran". Masyarakat sasak seneng banget ngadain roah hampir di setiap hal. Mulai dari ketika membeli motor baru, roah. Ketika diterima di universitas idaman, roah. Diterima bekerja (atau diangkat jadi PNS), roah. Hal-hal yang mungkin dianggap biasa oleh orang kota, keseringan masyarakat sasak pasti ngadain roah.

Nah, menjelang datangnya bulan suci kemarin pun di desa saya (lingkungan Bertais) mengadakan suatu acara roah menyambut ramadhan. Acara yang merupakan bentuk rasa syukur karena sebentar lagi akan memasuki bulan ramadhan ini disebut sebagai Roah Mersinan.

Bagaimana Pelaksanaan Roah Mersinan?

Roah Mersinan biasanya diadakan oleh warga satu RT atau satu dusun di lingkungan atau desa tertentu. Tempat pelaksanaannya bisa di Masjid atau di rumah salah satu warga dusun. Acara yang diselenggarakan pun beragam, ada yang berupa kajian, tahlilan ataupun lomba-lomba seperti lomba adzan untuk anak-anak dan sebagainya.

Sebagai contohnya di lingkungan tempat saya tinggal (Bertais) khususnya di RT 07. Semua warga RT 07 yang berjumlah 60-an KK sepakat mengadakan Roah Mersinan dua hari sebelum Ramadhan. Acara yang diselenggarakan berupa lomba adzan untuk anak-anak dan orang dewasa pada hari pertama dan di hari kedua ditutup dengan tahlilan, doa bersama dan pembagian hadiah.

Selain itu, ujung dari semua acara adalah adanya makan-makan bersama semua warga dusun. Acara makan bersama ini disebut dengan istilah "Begibung". Satu hidangan makanan dengan nampan besar biasanya disantap bersama empat sampai lima orang. Menurut saya Roah Mersinan ini sangat menjunjung tinggi nilai silaturrahmi.

ilustrasi Begibung saat Roah, sumber dok.pribadi

Kaitannya dengan Perempuan

Nah, tradisi yang saya jelaskan panjang lebar di atas ternyata tidak dapat terlaksana tanpa andil para perempuan lho guys!

Kaitannya gimana? Ternyata setelah semua warga dusun/RT sepakat untuk mengadakan Roah Mersinan, yang menyiapkan santapan untuk semua warga adalah para wanita. Yang laki-laki tinggal ngumpulin uang dan menyusun rangkaian kegiatan. Urusan masak-memasak semuanya diserahkan kepada perempuan ^^

Tidak hanya ketika Roah Mersinan guys. Selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, setiap mushalla dan masjid biasanya diramaikan warga dengan bersama-sama tadarus dari selesai sholat terawih sampai menjelang santap sahur sekitar jam 3.30 pagi. Nah, selama satu bulan penuh itu pula semua santapan yang tersedia di mushalla atau masjid itu, mulai dari jajanan snack sampai nasi dan lauk pauk untuk santap sahur semua disiapkan oleh para perempuan. Tentunya ada jadwal tersendiri tiap malamnya, ganti-gantian. Misalnya jumlah KK di lingkungan Bertais RT07 ada 60 KK, maka tiap malam ada 2 emak-emak yang akan menyediakan makanan dan minuman untuk yang tadarus di mushalla/masjid.

Begitulah kira-kira bentuk berbagi kebahagiaan di bulan ramadhan versi perempuan di Pulau Lombok. Kalau di daerah kalian bagaimana? Yuk share di kolom komentar :)


10 comments:

  1. Wuiihh keren blogger Lombok, semoga sukses arisan linknya. Saya izin gak ikutan. Takut gak bisa disiplin nulisnya. Huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggih mastah.. blogger lombok emang keren keren semua, saya masih awam makanya ikutan arisannya hhe

      Delete
  2. trimakasih atas info yg brmanfaatnya mbak baiq, saya baru tw ada tradisi khusus perempuan sasak di bulan ramadhan... 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tradisi memasak 😃

      Delete
    2. Tradisi memasak 😃

      Delete
    3. iya mas iqbal sama sama.. minal aidin wal faidzin yaa

      Delete
  3. Kalau disini serunya pas malam takbiran mbak, semua warga berkeliling dgn berjalan kaki sambil menabuh beduk dan bertakbir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah serunya sama berarti mba di Lombok juga ada pawai takbiran di malam lebaran..

      Delete
  4. Waaah seruu bangeet mbaak acara roah mersinan nyaa 😀 bahagiaa berkumpul bersama keluarga besar dan mensyukuri atas semua yg didapatkaan. 😇 Makasih sharingnyaaa mbak 😊

    ReplyDelete
  5. Enak ya kalo tempat yg masih melakukan tradisi seperti ini. Duluuu di aceh pun aku inget warga komplek slalu rame2 menyumbang makanan utk di mesjid, dan mesjid slalu rame dengan orang2 yg berbuka puasa, nth itu warga komplek ato org luar. Jd mempererat hubungan juga. Skr di jkt mah, g ada nemu yg seperti itu lg warganya. Kebiasaan menydiakan makanan berbuka utk org banyak sih msh ada. Tp hanya sebatas menyediakan, orangnya sndiri ga ikutan berbuka di mesjid..

    ReplyDelete